,

Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Nyatakan Serius Kawal Keluhan Dinsos

oleh
Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Rahmulyo Adi Wibowo

SorotNusantara.com , Semarang – Wakil ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Rahmulyo Adi Wibowo menanggapi serius berbagai masukan dari relawan Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang. Bahkan, ia menyatakan siap mengawal agar berbagai masukan yang menjadi keluhan yang ada bisa teratasi.

“Silahkan mengajukan surat permohonan audiensi kepada Wali Kota Semarang, nanti akan kita temui bersama-sama,” kata Rahmulyo dalam rapat koordinasi dan dan peningkatan kapasitas Tim Penjangkauan Dinsos (TPD) Kota Semarang di Grand Saraswati Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (8/2/2020).

Selaku bagian dari pemangku kebijakan di Kota Semarang, Ia sangat mendukung apa yang menjadi keluhan TPD sepanjang hal itu demi kebaikan masyarakat dan kemajuan Kota Semarang, “Saya akan support. Nanti soal anggaran saya akan banyak bicara,” ujarnya.

Dia menjelaskan mekanisme rasionalisasi anggaran yang dibahas memang harus menghadapi banyak pertanyaan kritis. Rasionalisasi dan argumentasi itulah yang akan ia perjuangkan dalam sidang anggota dewan agar kepentingan Dinsos bisa diwujudkan dalam sebuah kebijakan.

“Tadi, sebelum ke ruang ini, saya sudah sampaikan ke Pak Tri. Persoalan Among Jiwo itu nanti akan kita bawa ke rapat di Komisi D,” ungkapnya.

Perlu diketahui, Among Jiwo merupakan panti rehabilitasi sosial yang menangani orang psikotik dan gangguan kejiwaan. Selama ini hasil razia Satpol PP, dan berbagai elemen masyarakat yang bergerak di bidang sosial kerap mengirimkan orang gila ke panti tersebut. Oleh sebab itu, Among Jiwo dirasa kurang tepat digunakan sebagai selter sementara hasil penjangkauan TPD.

Sabtu (8/2), TPD Kota Semarang berfoto bersama Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang dan jajaran Dinsos Kota Semarang seusai kegiatan.

“Tidak semua kelayan yang kami bawa itu psikotik (gila, gangguan ingatan dan sebagainya),” kata salah satu anggota TPD, Yusuf.

 

Hal senada dikatakan Koordinator TPD, Dwi Supratiwi. Saat dimintai keterangan ia mengaku dalam sehari minimal 2 orang kelayan (istilah penerima manfaat bantuan Dinsos) dengan persoalan yang berbeda, “Kalau kita pas menangani anak jalanan dan membutuhkan selter sementara untuk asesmen (observasi dan pendataan) kan kurang tepat di Among Jiwo,” ujarnya.

Menegaskan hal tersebut, Kasie TSPO (Tuna Sosial, dan Perdagangan Orang) Anggie Ardhitia menyebut komitmen Dinsos dalam mensukseskan program dari kementrian sosial yang digagas oleh Khofifah Indar Parawangsa (Menteri Sosial saat itu).

Pemkot Semarang melalui Dinsos berupaya semaksimal mungkin mensukseskan program MIBAJ (Menuju Indonesia Benas Anak Jalanan),” turutnya, “Bagaimanapun caranya kita usahakan agar anak kembali ke sekolah,” sambungnya.

Menegaskan hal senada, narasumber dari Yayasan Anantaka Semarang Tsaniatus Shalichah. Menurutnya, saat ini TPD sebagai indikator keberhasilan Mibaj di Kota Semarang. Terlebih dengan predikat Kota Layak Anak yang disandang Kota Semarang sejak tahun 2018 lalu, “Seharusnya sekarang ini sudah bisa bebas dari anak jalanan,” tegasnya. (arh)