,

TPD Kota Semarang Jadi Rujukan Study Banding

oleh

SorotNusantara.com , Semarang – Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial (Kabid Rehabsos) Tri Waluyo menyebut hanya Dinsos Kota Semarang yang memiliki Tim Penjangkauan Dinsos (TPD). TPD merupakan tim reaksi cepat Dinsos Semarang dalam menangani persoalan yang masuk melalui berbagai media sosial.

“TPD ini hanya ada di Dinsos Kota Semarang. Dinsos kabupaten/kota lain tidak ada yang punya,” kata Tri saat memberikan sambutan Kegiatan Rakor dan Peningkatan Kapasitas TPD di Grand Saraswati Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (8/2/2020).

Meski nampak sebagai utama, namun Tri mengakui bahwa TPD tidak difasilitasi dengan anggaran yang signifikan, “Mereka ini memang sudah kami (Dinsos Semarang) tekankan ini untuk ikhlas dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Tidak ada penghargaan yang signifikan,” kata Tri membeberkan.

Sepak terjang TPD nampaknya menjadi perhatian Dinsos kabupaten/kota lain di Indonesia. Dikatakan oleh Koordinator TPD, Dwi Supratiwi bahwa saat ini TPD telah dikenal secara luas sehingga menjadi rujukan study banding, “TPD Semarang ini sering dijadikan study banding,” ungkapnya.

Tiwi, sapaan akrabnya, menyebut beberapa bulan terakhir Dinsos Kota Semarang telah dikunjungi rombongan Dinsos dari Jawa Timur dan luar Jawa, “yang baru-baru ini ada kunjungan dari Kota Kediri dan Sumatera,” ucapnya.

Lebih lanjut mantan ketua IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama ) Kota Semarang ini mengeluhkan beberapa kendala dalam mencari tempat tinggal rujukan bagi kelayan (istilah penerima manfaat Dinsos).

Sabtu (8/2), TPD Kota Semarang berfoto bersama Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang dan jajaran Dinsos Kota Semarang seusai kegiatan.

Hal itu terjadi lantaran kewenangan panti rehabilitasi bukan ranah pemerintah kabupaten/kota. Sementara, panti rehabilitasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memiliki kriteria kelayan. Hal itu cukup menyulitkan TPD karena kelayan yang ada belum tentu sesuai, baik dalam hal tidak jelasnya administrasi kependudukan maupun kemampuan merawat diri.

“Jadi kalau kita rujuk ke panti milik Pemprov sering tidak bisa dengan berbagai alasan. Untungnya, Dinsos memiliki panti rehabilitasi untuk korban psikotik Among Jiwo dan bekerja sama dengan beberapa LKSA binaan Dinsos,” urainya.

Oleh sebab itu, TKSKĀ (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) Tembalang ini berharap Pemkot Semarang bisa membangun rumah singgah yang layak untuk selter sementara, “Kalau sudah memiliki rumah singgah, kelayan tidak perlu numpuk di Among Jiwo,” bebernya.

Wakil ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Rahmulyo Adi Wibowo yang hadir sebagai narasumber kegiatan itu mengapresiasi kinerja Dinsos bersama TPD. Bahkan, ia menginginkan TPD bisa lebih hebat lagi, “Kalau ini (TPD) satu-satunya di Indonesia, kenapa tidak dijadikan lebih hebat lagi?,” ujarnya.

Lebih lanjut, politisi PDIP Kota Semarang itu menyatakan bersedia menjadi mediator agar Dinsos dan relawan yang ada untuk menyampaikan uneg-unegnya secara langsung kepada Wali Kota Semarang, “Nanti biar saya komunikasikan dan kawal supaya bisa bertemu langsung dengan Wali Kota Semarang,” tandasnya.

Untuk diketahui, kegiatan tersebut diikuti oleh puluhan relawan Dinsos. Diantaranya 50 orang dari unsur TPD dan FKPPI, 1 orang Satpol PP Kota Semarang, seorang Peksos (pekerja sosial) Dinsos Semarang, 1 Peksos RS Karyadi Semarang, Peksos RSJD Amino Gondho Semarang, 2 orang tim Ambulan Hebat Kota Semarang, 1 orang perwakilan RSUD Ketileng Semarang, 1 orang perwakilan DKK Kota Semarang, 5 orang petugas Panti Rehabilitasi Among Jiwo Semarang.

Mitra lain yang merupakan anggota TPD, 2 orang delegasi dari rumah pintar, ketua dan 1 anggota LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak), perwakilan Bankom (Bantuan Komunikasi) Polrestabes Semarang.

Selanjutnya, Tsaniatus Shalichah dari Yayasan Anantaka sekaligus menjadi salah satu narasumber kegiatan. Narasumber lain, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Rahmulyo Adi Wibowo, Dosen Psikologi UKSW Salatiga Endro Kristanto dan Kabid Rehabsos Dinsos Semarang, Tri Waluyo. (arh)