Tiga Sekolah di Semarang Ini Akan Ikuti Asesmen Nasional

oleh
Kepala SMA Negeri 5 Semarang Siswanto (sorotnusantara.com/ist)

SOROTNUSANTARA.COM , Semarang – Tiga sekolah di Kota Semarang, Jawa Tengah bakal menjalani Ujian Nasional (UN) dengan sistem Asesmen Nasional (AN). Sedikirnya, sebanyak 1.027 pelajar di antaranya dari SMP Negeri 28 Semarang sebanyak 249 pelajar yang akan lulus. Kemudian SMP Negeri 33 ada 283 pelajar dan SMA Negeri 1 Semarang ada 495 pelajar.

Langkah itu diambil setelah terbitnya Surat Edaran Nomor 1 Tahun 2021 tentang peniadaan Ujian Nasional (UN) dan ujian kesetaraan serta pelaksanaan ujian sekolah dalam masa darurat Covid-19 yang diterbitkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim.

Menurut Kepala SMP Negeri 28 Semarang, Miftahudin, adanya Asesmen Nasional (AN) mengganti UN sebagai cara pemetaan mutu pendidikan sudah tepat. Sebab, katanya AN akan memetakan hasil belajar yang holistik meliputi kognitif, sosial emosional, dan iklim sekolah yang valid dan hal itu tidak diperoleh pada saat UN. Selain itu, sekolah akan mendapat hasil yang meliputi kelebihan dan area perbaikan.

“Kalau AN dilaksanakan di era pandemi bagi kami tidak masalah, asalkan guru dalam pembelajaran menerapkan prinsip pembelajaran yang Miftah atau menyenangkan, inovatif, fokus, tekun, ambisi untuk paham, dan hubungkan dengan dunia nyata,” kata Miftahudin dalam siaran persnya, Rabu (17/2/2021).

Ia juga yakin apabila guru dan sekolah sudah melakukan pembelajaran dengan optimal, maka AN di masa pandemi dapat diikuti dengan baik. Apalagi kebanyakan akan memunculkan soal berdasar stimulus permasalahan nyata. Dengan begitu bisa mengajak anak bernalar. Meski demikian, untuk pedoman AN, dari sepengetahuannya, masih dalam proses.

“Ada 3 hal yang kami pertimbangkan untuk lulus, sikap minimal baik, menyelesaikan program pembelajaran di masa pandemi, dan mengikuti ujian. Ujian rencana menggunakan tes tertulis secara Luring (luar jaringan, -red), sedangkan untuk pembobotan masih proses,” jelasnya.

Pandangan berbeda diungkapkan Plt Kepala SMA Negeri 1 Semarang, Siswanto. Menurutnya kebijakan AN tersebut tidak mengantikan UN, melainkan kebijakan itu untuk memotret sistem pendidikan yang sudah dilakukan sekolah. Nantinya hasilnya akan menjadi informasi, memperbaiki sistem pendidikan yang ada di sekolah. Dengan begitu apa yang dilakukan sekolah ke depan bisa mengetahui strategi perbaikan karena memiliki gambaran yang jelas.

“Jadi intinya AN bukan pengganti UN. Melainkan merupakan upaya pemerintah untuk memotret sistem pendidikan sekolah sebagai upaya perbaikan mutu pendidikan di sekolah dan itu memberikan gambaran untuk sekolah ke depannya,” ujarnya.

Siswanto yang juga Kepala SMA Negeri 5 Semarang ini melanjutkan, langkah itu sekaligus memberikan gambaran bagi guru untuk membuat strategi baru dalam memberikan pembelajaran, keterampilan pembelajaran abad 21, serta bagaimana membiasakan pentingnya sikap, tidak hanya pengetahuan dan keterampilan.

“Artinya tiga aspek itu akan terwujud di sekolah. Nantinya bisa diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu bisa menumbuhkan karakter anak didik yang baik ke depannya,” ucapnya.

Gebrakan itu, menurutnya, merupakan langkah bagus karena meningkatkan mutu pendidikan dan bisa memperbaiki mutu sekolah. “Penerapan AN, menggunakan perhitungan nilai dari nilai raport semester 1-6 dan ujian sekolah,” teganya.

Sedangkan, Kepala SMP Negeri 33 Semarang Didik Teguh Prihanto, mengatakan penentuan kelulusan kelas 9 tahun 2021, pihaknya mengacu pada Surat Edaran Mendikbud tersebut. Dalam pelaksanannya nanti satuan pendidikan diberikan pilihan menentukan kelulusan. Mulai mengolah nilai raport, nilai tugas, atau ujian sekolah.

Dijelaskannya, sesuai surat edaran tersebut, untuk menentukan kelulusan pertama siswa harus menyelesaikan program akademik setiap semester. Dengan begitu pelajar harus memiliki nilai raport kelas 7, 8 dan 9, atau 6 semester. Kemudian memiliki prilaku baik, dan mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.

“Terkait ketiga hal itu, SMP kami akan selenggarakan ujian sekolah baik daring dan luring. Untuk luring, nantinya kalau ditemukan ada siswa tidak bisa ikuti secara maksimal,” terangnya.

Terkait ujian praktek kecakapan hidup, seperti mapel prakarya, agama dan lainnya, dimana anak didik harus menunjukkan praktek. Maka bisa saja, sekolahnya mengadakan ujian praktek tersebut.

“Pelaksanaannya sekitar April. Penentuan kelulusan anak-anak kelas 9 harus memiliki nilai raport 6 semester dan memiliki nilai ujian sekolah semua mapel. Ujian sekolah masih menunggu arahan dari Dinas Pendidikan, tapi kami tetap akan menyelenggarakan ujian sekolah,” jelasnya. (arh)