,

Target Rekrutmen Terorisme Geser dari Mahasiswa ke Perempuan

oleh
Dialog "Perempuan Agen Perdamaian ", Pelibatan Perempuan Dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme yang diselenggarakan FKPT Jateng bersama BNPT di Hotel Pandanaran.

SorotNusantara.com , Semarang – Kasi Pelibatan Masyarakat Direktorat Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Letkol Laut Setyo Pranowo SH, MM mengungkapkan benteng pertama dalam mencegah merebaknya paham radikal-teror

Dalam Dialog “Perempuan Agen Perdamaian “, Pelibatan Perempuan Dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme yang diselenggarakan FKPT Jateng bersama BNPT di Hotel Pandanaran Kamis (8/8/2019) Setyo memaparkan, perempuan memegang peranan penting dalam upaya-upaya mencegah ancaman radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Letkol Laut Setyo Pranowo SH, MM

Menurutnya, secara kodrati perempuanlah yang pertama kali melakukan interaksi dengan anak yang akan menjadi penerus keberlangsungan sebuah generasi. “Di sinilah letak peran penting itu,” ujarnya.

Setyo menerangkan, karena begitu strategisnya itulah maka kaum perempuan kini menjadi sasaran pembiakan kader pelaku teror sekaligus kader reproduksi teror. Pergeseran obyek rekrutmen teroris dilakukan setelah gerakan mobilisasi rekrutmen untuk segmen pemuda dan mahasiswa tertolak oleh masyarakat.

Sehingga, lanjutnya, isu radikalisme dan terorisme meski telah dibungkus dengan berbagai kemasan yang menarik kian mendapat penolakan keras di segmen ini. Mensikapi realitas tersebut, para teroris menggeser manuvernya dengan mengalihkan sasaran segmennya di kalangan perempuan. Upaya ini sempat membuahkan hasil, sejumlah kaum perempuan terpapar radikalisme dan terorisme.

“Klimaknya, beberapa tahun tahun lalu di Surabaya, seorang ibu berhasil memobilisir suami dan anaknya untuk melakukan aksi bom bunuh diri di Surabaya,” bebernya.

Dialog “Perempuan Agen Perdamaian “, Pelibatan Perempuan Dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme yang diselenggarakan FKPT Jateng bersama BNPT di Hotel Pandanaran.

Selain itu dari deteksi yang dilakukan aparat mulai ditemukan adanya para tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri juga terindikasi terpapar radikalisme dan terorisme .

“Kondisi ini sangat memprihatinkan, karena perempuan yang semestinya menjadi tangan pertama untuk melindungi keluarga dari ancaman teror justru menjadi bagian dari gerakan kejahatan luar biasa itu,” tandasnya.

Oleh sebab itu dia berharap, melalui kegiatan FKPT Jateng dengan BNPT yang dikuti para tokoh organisasi wanita di Jateng menjadi sebuah gerakan penyadaran untuk meneruskan ke akar rumput dalam penguatan spirit kaum perempuan untuk mencegah radikalisme dan terorisme. (arh)