,

Tak Layak Huni, Rumah Pawang Ular Dibedah

by -125 views
Suasana bedah rumah Pak Ulo. (ft.arh)

SOROTNUSANTARA.COM , KAB. SEMARANG – Rumah keluarga Hadi Prayitno atau yang lebih dikenal dengan Pak Ulo dinyatakan tidak layak huni. Pria yang dikenal warga sebagai pawang ular karena kepiawaianya dalam menjinakkan ular ini menjadi sasaran program bedah rumah.

Berlokasi di Dusun Pateran RT 34 RW VII, Desa Plumbon, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, rumah gentengnya banyak yang bocor, kayu dinding dan sekatnya berlobang dan lapuk, Selasa (9/4/2019) pagi mulai dibongkar warga.

Bedah rumah dimulai bersamaan dengan Pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) XVI dan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-47, tingkat Provinsi Jawa Tengah, yang pada tahun 2019 ini berlangsung di Desa Plumbon.

Pak Ulo ini sehari-hari tinggal bersama anak dan istrinya, katanya, ia memilki tiga orang anak, tapi hanya satu yang masih tinggal bersamanya di rumah tersebut, sementara anak yang lain sudah berkeluarga dan tinggal terpisah.

“Kalau hujan trocoh (bocor). Pas mau tidur, kalau hujan ya pindah sana, pindah sini, biar nggak ketrocohan,” ujarnya,

Sang istri bekerja sebagai penjual sayuran di pasar. Sedangkan Pak Ulo sendiri adalah juru pijat. Di samping ia juga gemar bergelut dengan dunia reptil dengan cara memelihara dan menjual belikan ular. Namun, penghasilan dari pekerjaan tersebut terbilang sangat minim, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sehingga, keluarga Pak Ulo sangat bersyukur rumahnya diberi bantuan untuk direnovasi.

Ketua RW setempat, Lutfi Syahbudin menjelaskan, rumah warganya tersebut memang masuk dalam kategori Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Karena itu, ia mendapat bantuan sebesar Rp 10 juta. Tapi bantuan itu tidak dalam bentuk uang, melainkan sudah bentuk material.

“Nanti pengerjaannya adalah murni swadaya masyarakat. Termasuk kalau ternyata kurangnya masih banyak, kurangnya apa, nanti kami, masyarakat sini yang mengusahakannya bareng-bareng. Entah dengan cara apa, yang penting gotong royong,” bebernya.

Lutfi juga menyatakan, rumah Pak Ulo ini sebenarnya sudah diajukan untuk dibedah pada program tahun lalu. Namun, karena ada kendala dalam masalah pembagian tanah waris, akhirnya dialihkan untuk rumah lainnya. Hingga akhirnya bisa terealisasi pada tahun ini.

Menurutnya, selama ini pihaknya memang cukup selektif dalam menjalankan program pengentasan kemiskinan dalam bentuk bedah rumah. “Kami sudah mencanangkan secara serius, mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Dan kami melihat, Pak Uno ini memang yang lebih membutuhkan,” tandasnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispermadesdukcapil) Jateng, Sugeng Riyanto menambahkan, bedah rumah ini merupakan program dari pemerintah provinsi.

Setiap tahun, katanya, perdesa memang mendapat bantuan bedah rumah sebanyak 3 unit rumah, dengan besaran masing-masing sebanyak Rp 10 juta. Dan kali ini, bedah rumah dibarengkan dengan agenda Pemprov yang notabene temanya sama, yakni gotong royong. (arh)