Siaga Merapi, PMI Jateng Tampung 1.435 Pengungsi

oleh
Para relawan PMI tengah menyiapkan tenda pengungsian. (dok)

SOROTNUSANTARA.COM , Semarang – Sejak tanggal 5 November 2020 lalu, status Gunung Merapi menjadi siaga III. BPPTKG merekomendasikan untuk menghentikan segala aktivitas penambangan di alur-alur sungai yang mengalir ke Gunung Merapi.

Ada empat kabupaten direkomendasikan untuk segera menyiapkan mitigasi bencana, yaitu Kabupaten Magelang, Sleman, Boyolali dan Klaten.

“Data dari Posko PMI Jawa Tengah, hingga hari ini tercatat telah ada 1.435 jiwa yang melakukan pengungsian di 12 lokasi yang tersebar di Kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten,” kata Ketua Bidang Penanggulangan Bencana (PB) Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Jawa Tengah, Sarwa Pramana dalam siaran persnya, Jum’at (13/11/2020).

Selain itu, pihaknya telah melakukan koordinasi dan berbagai persiapan dampak bencana bila terjadi erupsi Merapi. “PMI di Jateng, untuk saat ini telah menyiagakan 300 relawan dengan berbagai spesialisasi (kemampuan khusus) seperti pertolongan pertama, evakuasi, medis, dapur umum dan pshycosocial (dukungan psikologi). Juga peralatan untuk dilokasi TEA (tempat evakuasi akhir), seperti alat cuci tangan portabel, pemeriksaan suhu tubuh, tandon air, serta kendaraan khusus seperti Haglun, yang disiagakan di Magelang,” ungkapnya.

Kepala Markas PMI Jawa Tengah, Mu’rifah menambahkan, PMI Jateng telah meminta PMI Kabupaten Magelang, Klaten dan Boyolali untuk mengantisipasi segala kemungkinan dengan menyiapkan rencana operasi.

“PMI Jateng dan 3 PMI Kabupaten telah melakukan koordinasi untuk menyiapkan rencana operasi, sehingga bila ada kejadian bencana, telah ada panduan yang bisa menjadi pedoman seluruh tim dalam memberikan pelayanan dalam penanggulangan bencana,” ujarnya.

Salah satu lokasi lain yang akan digunakan untuk pengungsi telah diberi sekat. (dok)

Dijelaskan, PMI telah menyiapkan pula logistik bencana berupa family kit sebanyak 1.500 paket, selimut 1.500 pcs, terpal 1.500 pcs, matras 1.500 pcs, masker 50.000 pcs. Untuk mendukung kebutuhan harian, disiapkan pula truk tanki air dan mobil listrik untuk kebutuhan gudang losgitik.

“Losgitik tersebut sifatnya untuk mengantisipasi kebutuhan saat terjadi tanggap darurat bencana. Kami juga menyiapkan baju hazmat 3.000 pcs dan faceshield 3.000 pcs, untuk mengantisipasi kondisi di lapangan. Bila nantinya terjadi bencana dan membutuhkan personil, kami telah koordinasikan dengan PMI kabupaten/kota lain untuk memobilisasi relawannya,” jelasnya.

Sebelumnya, lokasi pengungsian telah ditinjau oleh Bidang PB, Pengurus Pusat PMI Bidang PB, Letjen (Pur) TNI Sumarsono. Sumarsono telah mengecek secara langsung ke posko induk Desa Taman Agung Kecamatan Muntilan Bersaudara Ngargomulyo Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Ruang inap pengungsi sudah disekat-sekat dengan bahan papan tripleks. Selain itu, ruangan dapur umum juga dikontrol untuk memastikan kelayakannya. Termasuk fasilitas air, penerangan listrik dan fasilitas pembuangan tinja.

“Setelah kami cek satu-satu, semuanya sudah memenuhi standar. Termasuk protokol kesehatan karena saat ini masih pandemi Covid-19,” kata Letjen (Pur) TNI Sumarsono.

Mantan Pangdam IV/Diponegoro ini mengingatkan semua elemen relawan, baik dari pihak pemerintah daerah maupun relawan lintas potensi kebencanaan agar dalam penanganan pengungsi erupsi merapi memperhatikan protokol kesehatan. Ia menekankan hal itu karena tak ingin muncul klaster baru penyebaran Covid-19.

“Semuanya sudah bagus. Fasilitasnya dan ruang inapnya. Tapi yang harus diperhatikan bagaimana protokol kesehatan ini tetap dijalankan. Pakai masker, jaga jarak, cuci tangan,” pesannya. (arh)