Sertifikat Tanah Wakaf Masjid Agung Semarang, Jaga Aset Warga Semarang

oleh
Kepala BPN Kota Semarang Sigit Rachmawan Adhi menyerahkan sertifikat wakaf MAS kepada KH Ali Mufiz, disaksikan Ketua Yayasan Badan Pengelola MAS KH Khammad Makshum Turmudzi AH dan Ketua Takmir KH Hanief Ismail (dok/ist)

SOROTNUSANTARA.COM , Semarang – Masjid Agung Semarang (MAS) Jawa Tengah sebagai sebuah masjid bersejarah di Kota Semarang merupakan sebuah aset yang berharga bagi masyarakat kota Semarang, dan Kauman pada khususnya.

Oleh karena itu kejelasan adiministrasinya harus ditegaskan untuk menjaga kelestarian masjid itu sendiri.

“Alhamdulillah, Masjid Kauman sekarang sudah bersertifikat,” kata Ketua Yayasan Badan Pengelola Masjid Agung Semarang, KH Khammad Makshum Turmudzi AH usai menerima sertifikat, Kamis (24/9/2020).

Kiai yang akrab disapa Gus Khammad ini menuturkan, masjid yang dulu dikenal sebagai Masjid Besar Kauman ini memiliki sejarah panjang. Diantaranya berkaitan dengan berdirinya Kabupaten Semarang (sekarang Kota Semarang)

‘’Tak hanya itu, masjid yang berdiri di Kelurahan Bangunharjo, Kecamatan Semarang Tengah, ini juga memiliki banyak catatan sejarah sebagai pusat penyebaran tauhid. Namun, tidak diketahui secara pasti sejak kapan Masjid Agung Semarang ini dibangun,’’ katanya.

Berdasarkan sejumlah catatan yang dipercaya kebenarannya, Masjid  Agung Semarang didirikan pertama kali pada pertengahan abad XVI Masehi (1575 M) atau jauh sebelum masa penjajahan di bumi nusantara ini.

Kendati demikian, menurut Gus Khammad, masjid itu diakui justru lebih tua dari Kota Semarang itu sendiri. Sebab, cikal bakal terbentuknya Kota Semarang justru berawal dari masjid tersebut.

Dalam catatan sejarah Yayasan MAS atau MBS, masjid ini didirikan oleh Sunan Pandan Arang atau dikenal juga dengan sebutan Ki Ageng Pandan Arang. Bagi warga Semarang, mereka menyebutnya dengan nama Pandanaran.

‘’Ulama ini merupakan seorang maulana dari negara Arab yang bernama asli Maulana Ibnu Abdul Salam. Oleh Sunan Kalijaga (lewat Sultan Hadiwijoyo – Pajang), Sunan Pandan Arang ditunjuk untuk menggantikan kedudukan Syekh Siti Jenar. Sunan Pandan Arang ditugaskan untuk menyampaikan syiar Islam di daerah sebelah barat Kasultanan Bintoro Demak,’’ katanya.

Terkait sertifikat tanah, Ketua Takmir Masjid Agung Semarang KH Hanief Ismail mengapresiasi Kepala BPN yang memberikan perhatian kepada masjid yang memiliki peran sejarah perjuangan kemerdekaan.

‘’Masjid ini pernah mengalami kebakaran hebat sehingga hampir semua dokumen termasuk surat-surat berharga tidak tersisa,’’ kata kiai yang kini menjabat Rais PCNU Kota Semarang.

Sementara, Kepala Kantor Badan Pertanahan (BPN) Kota Semarang, Sigit Rachmawan Adhi mengatakan sertifikat tanah wakaf yang diberikan meliputi bangunan utama MAS seluas 5.054m2. ‘’Selain sebagai bakti warga, kegiatan ini dalam rangka HUT Ke-60 BPN,’’ katanya.

Dengan adanya sertifikat tanah wakaf MAS, ia bersyukur kejelasan status tanah masjid dan mushala di Kota Semarang bisa terselesaikan dengan baik.

Sertifikat wakaf tersebut secara simbolis diterima oleh KH Ali Mufiz, mewakili pengurus MAS. Ali Mufiz yang pernah menjabat Gubernur Jateng pada 2007-2008 itu berharap Kepala BPN dapat memperjelas status tanah ‘Banda MAS’ di Kota Semarang.

‘’Terima kasih, ini kado Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-60 BPN. Masjid Agung Semarang ini mempunyai tanah 119 hektare lebih. Beberapa ada yang ditempati warga masyarakat. Mudah-mudahan BPN bisa membantu menelusuri ini,’’ katanya. (arh)