,

Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Pusat Himbau Ulama Jangan Jadi Provokator

by -373 views
Para panitia berfoto bersama para narasumber. (arh)

sorotnusantara.com, Semarang, – Maraknya ujaran kebencian, dan berbagai kegiatan politik dengan menggunakan dalil-dalil agama yang berkembang dewasa ini menjadi fenomena tersendiri. Para da’i atau ulama yang mengajarkan Islam semestinya mencontoh perilaku Sang Penerima Wahyu, Nabi Muhammad SAW.

Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Pusat, Prof. Dr. H Noor Achmad, MA dalam sebuah talkshow Hari Pers Nasional 2019, di Gedung Pers Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah Jalan Trilomba Juang No 10, Mugassari Kota Semarang, memberikan himbauan agar ulama berperilaku arif dan bijaksana, ulama semestinya tidak menjadi provokator.

“Saya mengimbau ulama untuk tidak menjadi provokator dari masing-masing calon atau menjadi Jurkam pada saat ber-tabligh,” kata Noor Achmad, Senin (11/2/2019), “kalau ber-tabligh, ber-tabligh-lah. Kalau menjadi Jurkam, jadilah Jurkam yang baik,” sambungnya.

Noor Achmad menambahkan, ulama merupakan tokoh sentral, pemersatu, dan pewaris para Nabi, baik secara ilmu agama maupun secara etika. Karenanya, ia mengharapkan peran-peran tersebut direalisasikan sehingga menimbulkan kedamaian.

Para panitia berfoto bersama para narasumber. (arh)

“Ulama itu adalah pemersatu, ulama adalah pelayan, ulama itu mewarisi para Nabi,” ujarnya, “Jadilah orang yang bisa membawa kedamaian di tengah masyarakat. Tidak menimbulkan kebencian. Karena Nabi juga tidak pernah menimbulkan kebencian,” tuturnya.

Sementara, Wakil Gubernur Jawa Tengah, H. Taj Yasin Maemoen menegaskan pentingnya menghentikan hoax. Menggunakan logika seorang santri, Gus Yasin menerangkan beberapa dalil yang menganjurkan seseorang untuk mencari klarifikasi kebenaran informasi yang diterima. Hanya saja, ia sering mendapati para penyebar informasi tersebut kerap berdalih sebatas menyampaikan informasi.

“Sering kali orang berdalih kami hanya menyampaikan kabar, bukan membuat hoax,” kata Gus Yasin

Dia menerangkan, bahwa hal tersebut juga dilarang oleh agama, bahwasanya pendengaran, penglihatan, dan bahkan yang kita pikirkan juga akan dimintai pertanggungjawaban Sang Pencipta. Oleh sebab itu, dia mengimbau warga untuk bijak dalam bermedia sosial.

“Maka berita apa pun yang tidak jelas harus kita saring. Kira-kira reaksinya bagaimana kalau kita unggah? Baik atau buruk?,” ujarnya

Lebih lanjut, politisi PPP ini menegaskan, persoalan bahasa juga menjadi bagian tersendiri penyebaran hoax. Diungkapkan, kalau saja kabar bohong tersebut tidak diistilahkan dengan hoax, tapi langsung menyebut hal itu fitnah tentu masyarakat akan lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi.

Sementara, Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, SSos, MA dalam kesempatan tersebut mengingatkan peran media dalam menjaga kondusifitas keberagaman masyarakat. Terlebih di Jateng yang sejauh ini damai menyambut pemilihan legislatif (Pileg) dan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Dalam kesempatan tersebut, ia juga menegaskan pada semua pihak untuk menjaga kondusifitas yang ada.

“Saya kira di Jawa Tengah ini yang sudah kondusif, kita jaga bersama kerukunan, keberagaman, pemilu untuk memilih dengan cara yang semestinya,” lugasnya. (arh)