,

SAS Tegaskan Indonesia Bukan Darul Islam

by
Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siraj saat memberikan sambutan Harlah ke 96 NU di Semarang. (ft.doc)

SorotNusantara.com , Semarang – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siraj (SAS) menegaskan Indonesia sebagai negara yang damai, bukan negara Islam. Hal ini disampaikan saat SAS memberikan sambutan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke – 96 NU yang dihelat PCNU Kota Semarang Jateng di depan Balaikota Semarang, Jalan Pemuda depan gedung Balaikota Semarang, Ahad (24/3/2019).

SAS mengingatkan kisah Muktamar NU tahun 1936 yang digelar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang mana para ulama memutuskan Indonesia adalah Darussalam, negara yang damai. Bukan Darul Islam, bukan pula Darul Kufr. “Keputusan Muktamar NU tersebut dalam bahasa populernya adalah Nation State,” ujarnya.

Konsekwensi dari prinsip dan haluan NU tersebut, lanjutnya, NU menegaskan bahwa para pemeluk agama selain Islam di Indonesia tidak boleh disebut kafir. Melainkan non muslim. Karena yang berlaku adalah muwathanah, kewarganegaraan. “Asal Warga Negara Indonesia, apapun agama dan kepercayaannya, maka hak dan kewajibannya sama,” tegasnya.

SAS melanjutkan, pada tahun 1945, saat baru saja bangsa Indonesia merdeka, negara-negara barat yang bergabung dalam barisan Sekutu (Allied Forces) hendak datang lagi untuk mengembalikan Belanda menjajah Indonesia. Pasukan yang datang adalah NICA. Saat itu, kata dia, Presiden Soekarno, Wapres Muhammad Hatta dan Panglima Jenderal Soedirman dilanda keresahan, resah karena tentara belum kuat. Maka yang paling memungkinkan adalah melakukan perlawanan rakyat.

“Lantas siapa yang bisa menggerakkan rakyat? Siapa yang mampu memberi komando perang kepada rakyat? Satu-satunya yang diyakini bisa adalah KH Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama. Maka pemerintah mengutus delegasi untuk meminta fatwa KH Hasyim Asy’ari,” tuturnya.

Kiai Said menambahkan, Muktamar NU di Situbondo Jawa Timur tahun 1984 menyatakan bahwa NKRI, Pancasila adalah harga mati, sudah final. Tidak boleh diperdebatkan lagi.

Golongan yang Selamat
Dalam keagamaan, NU memiliki ideologi ahlussunnah wal jamaah sebagai golongan yang disebut Nabi Muhammad sebagai golongan yang selamat. “Warga NU sangat jelas memiliki ideologi ahlussunnah wal jamaah yang ajarannya adalah membangun ukhuwah (persaudaraan,red), baik ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathoniyah (persaudaraan setanah air), maupun ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia),” tuturnya.

Dijelaskan lebih lanjut, NU senantiasa mengikuti ajaran Nabi Muhammad yang mendapat perintah dari Allah SWT untuk membentuk organisasi yaitu umat. “Umat yang bagaimana? Ummatan wasathan, yaitu umat yang moderat, tidak radikal, tidak ekstrim dan apalagi menjadi teroris,” tegasnya.

Seraya mengutip ayat Alquran surat Albaqarah ayat 143, SAS menerangkan, Rasulullah diperintah menyatukan umat. Umat yang moderat dan membawa Islam sebagai rahmat bagi seluruh semesta alam.
“Demikian pula Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian (QS Albaqarah [2]: 143)”

Lebih lanjut SAS menegaskan, NU didirikan oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari dengan pedoman tersebut, menjadi Madzhab Mutawassith. Yaitu jalan tengah, tidak ekstrem. Itulah sebabnya, lanjut dia, prinsip NU adalah tawasuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal.

Di akhir pidatonya, Kiai Said berpesan kepada warga Kota Semarang agar menjaga perdamaian, kerukunan, dan mengawal Pemilu berjalan dengan tenteram.”Selamat harlah NU. Cintailah, jagalah, dan kawal Semarang. Mari kawal Pemilu agar tetap tenteram,” pungkasnya.

Ditambahkan, KH Said Aqil Siraj didampingi Ketua PP LP Ma’arif NU KH Arifin Junaidi, Pengurus PP GP Ansor Korwil Jateng-DIY Mujiburrohman, Ketua PWNU Jateng HM. Muzammil, Walikota Semarang Hendrar Prihadi, Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryati Rahayu, Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang KH Hanief Ismail, Ketua PCNU Kota Semarang H Anasom dan sejumlah pimpinan lembaga dan badan otonom NU Jateng maupun Kota Semarang, serta sejumlah pemimpin Ormas lain, Ormas lintas agama dan pejabat pemerintah serempak mengibarkan bendera lambang olahraga untuk membuka acara Jalan Sehat berhadiah 4 paket umroh yang diikuti oleh 50 ribu warga NU Kota Semarang. (arh)