,

Santri PP Durrotu Aswaja Diminta Kampanyekan PUP

oleh
Pengasuh Pondok Pesantren Durrotu Aswaja, Kiai Agus Ramadhan saat memberikan sambutan pembukaan Sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan di Aula Lt.2 Kompleks PP Durrotu Aswaja Banaran, Kota Semarang (dok)

SOROTNUSANTARA.COM , Semarang – Kepala Bidang Keluarga Sejahteraan dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN Jateng Agus Pujianto meminta santri Pesantren Durrotu Aswaja untuk mengampanyekan Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP).

“Kalian punya potensi mengedukasi bahwa usia yang ideal untuk menikah itu diatas 21 tahun bagi perempuan dan laki-laki sudah mencapai 25 tahun lebih. Sebab, secara kesehatan reproduksi, kondisi rahim sudah benar-benar siap menerima pembuahan di usia lebih dari 21 tahun,” kata Agus.

Agus menerangkan hal itu dalam ‘Sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan’ di Pondok Pesantren Durrotu Aswaja, Banaran, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (10/10/2020).

Dia menerangkan, PUP dimaksudkan untuk menghasilkan keluarga yang harmonis, dan meminimalisir berbagai risiko kesehatan yang ditimbulkan akibat hamil di usia terlalu muda. Sebab, pertumbuhan anatomi tubuh dan psikis wanita pada fase 7 tahun ketiga atau 21 tahun.

Kehamilan di bawah itu, kata Agus, rawan terjadi kanker leher rahim dan dalam 10-20 tahun berpotensi menimbulkan kanker serviks. “21 tahun itu sudah matang. Pembuahan di usia dibawah 19 tahun risiko stunting lebih tinggi, risiko kematian ibu saat melahirkan juga tinggi,” jelasnya.

Menurutnya, pada usia tersebut kesehatan psikis dan reproduksi telah benar-benar siap. Selain itu, secara finansial sudah cukup tertata. Karena itu ia menyayangkan masih tingginya angka pernikahan dini di Jawa Tengah.

“Pengajuan dispensasi untuk menikah dibawah 19 tahun masih cukup banyak,” ujarnya.

Kasubit Bina Ketahanan Remaja (BKR) Iwan Dwi Antoro berharap yang sama, santri Durrotu Aswaja yang pada umumnya mahasiswa Unnes, ada juga mahasiswa Undip dan Unwahas memiliki potensi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menyiapkan diri untuk menikah.

“Kami sengaja memilih Pesantren Durrotu Aswaja karena dari kalangan mahasiswa dan calon pendidik atau calon guru,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, pengasuh Pesantren Durrotu Aswaja, Kiai Agus Ramadhan mengatakan siap mendukung program tersebut. Terlebih dengan berbagai program kemasyarakatan pesantren.

“Santri di sini ada program Amal Bakti Santri (Abas), semacam KKN. Santri bisa melakukan sosialisasi saat bermasyarakat dalam program Abas,” ucapnya.

Selain itu, sambungnya, pesantren memiliki Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) binaan di daerah yang menjadi lokasi Abas. “Bahkan, malah bisa mendirikan beberapa TPQ setelah program Abas selesai,” ungkapnya.

Potensi lain, Pesantren Durrotu Aswaja juga memiliki Unit Kegiatan Santri (UKS) dan Asosiasi Rumpun Keilmuan Aswaja. Dengan begitu, kata sekretaris Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Kota Semarang membuka UKS baru yang mengakomodir program BKKBN Jateng. (arh)