Sambut New Normal, Wisata Religi MAJT Mulai Dibuka

oleh
Ilustrasi suasana Menara Al Husna MAJT

SorotNusantara.com , Semarang – Sejumlah destinasi wisata di Kota Semarang mulai buka meski kebijakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) masih dijalankan. Pihak pengelola pun menyatakan kesiapannya menerapkan protokol kesehatan Covid-19 sebagai acuan kenormalan baru yang ditetapkan.

Salah satu destinasi yang sudah siap membuka diri untuk wisatawan adalah wisata religi yang terdapat Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Menara Al Husna dan museum yang berada di kompleks masjid yang berlokasi di Jalan Gajah Raya, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang itu sudah buka mulai Senin, 22 Juni 2020.

“Iya, kami mulai membuka tempat wisata religi di MAJT, yaitu Menara Al Husna dan Museum Perkembangan Islam,” kata Sekretaris Panitia Pengelola (PP) MAJT Muhyiddin saat diminta keterangan persnya, Selasa, (23/6/2020).

Muhyiddin menuturkan meski sudah buka, namun ada beberapa perbedaan kebiasaan yang perlu diperhatikan bagi pengunjung yang akan berkunjung MAJT. Protokol kesehatan ala New Normal diterapkan ketat demi kenyamanan dan kesehatan pengunjung maupun petugas wisata.

“Tentunya dengan persiapan-persiapan yang sesuai dengan ketentuan dari pemerintah kota, maupun Dinas Kesehatan dan dinas terkait, yaitu menerapkan protokol kesehatan bagi pengunjung,” ujarnya.

Terkait protokol kesehatan ini pengelola MAJT sudah menyiapkan prosedurnya. Mulai dari kewajiban mengenakan alat pelindung diri untuk petugas jaga dengan memakai masker dan face shield serta menyediakan alat pengukur suhu tubuh.

Hal sama juga berlaku untuk pengunjung, diwajibkan pakai masker saat berada di menara maupun kompleks MAJT. Jika imbauan itu tidak ditaati, mereka dilarang untuk masuk area MAJT, maupun naik ke Menara Al Husna.

Hal lain yang harus diperhatikan pengunjung adalah jumlah dan durasi kunjungan. Dua ketentuan itu ada pembatasannya, mengacu pada aturan main PKM jilid empat.

Muhyiddin menyebut saat ini, jumlah kunjungan di menara, hanya dibolehkan sebanyak 50-70 orang saja atau maksimal separuh dari jumlah kapasitas menara tersebut. Biasanya, menara Al Husna menampung jumlah kunjungan sampai dengan 150 orang.

“Memang untuk jumlah pengunjung yang masuk ke menara kami batasi, hanya 50-70 orang dari kapasitas berjumlah 150 orang,” terangnya.
Untuk naik ke menara lewat lift, jumlah pengunjung juga dibatasi. Hanya boleh dinaiki maksimal empat orang tiap lift, atau 50 % dari kapasitas setiap lift sebanyak delapan orang.

“Naiknya, bergiliran masing-masing lift hanya boleh diisi empat orang. Jadi total ada delapan orang tiap kali saat naik lift,” kata dia.

Pembatasan jumlah pengunjung ini agar aturan jaga jarak bisa optimal diterapkan. Adapun jadwal kunjungan di Menara Al Husna, hanya dibuka saat jam kerja, yakni mulai pukul 09.00 -16.00 WIB.

Ilustrasi suasana Menara Al Husna MAJT

Terpisah, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyatakan PKM jilid empat memberi kelonggaran bagi tempat wisata dan tempat hiburan beroperasi kembali. Baik untuk tempat wisata yang dimiliki oleh Pemkot Semarang maupun pihak swasta.

Namun demikian, Hendi, sapaan akrab wali kota, menyatakan pembukaan tempat wisata dan tempat hiburan harus seiizin atau memiliki rekomendasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Juga dengan pembatasan, seperti jam operasional dan jumlah pengunjung.

“Kota Semarang ini, kota jasa dan perdagangan, fokusnya di pariwisata. Sehingga hal yang terpenting kalau tempat wisata mulai dibuka, industri pariwisatanya, yaitu yang bisa dilakukan yaitu pembatasan jumlah kunjungan,” tutur dia.

Hendi mencontohkan di Puri Maerokoco. Tempat wisata di Kecamatan Semarang Barat itu berkapasitas 1.000 orang. Selain harus punya alat deteksi suhu tubuh, pengelola juga wajib membatasi jumlah pengunjung.

“Kalau sudah 500 orang tidak boleh menerima kunjungan lagi. Begitu juga di wisata Kandri juga dibatasi. Di pintu masuk harus ada petugas yang mengecek, kalau sudah 400 orang, ya sudah tidak boleh ada yang masuk lagi,” ucap Hendi. (arh)