,

Ruwat Pancasila, Hendi Sebut Mengganti Pancasila Tidak Waras

by

SOROTNUSANTARA.COM , SEMARANG – Perpolitikan tanah air dewasa ini terganggu oleh munculnya sekelompok orang yang mengatasnamakan rakyat Indonesia namun merong-rong persatuan bangsa Indonesia. Mereka dengan terang-terangan berhasrat mengganti ideologi bangsa dengan formalisasi negara agama, khilafah.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi tak menampik hal tersebut. Dalam sambutan Ruwatan Negeri Pancasila di Pastorat Universitas Katholik Seogijopranoto Semarang, Sabtu (1/6/2019) petang, Hendi, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa Pancasila sebagai landasan negara adalah hasil pemikiran yang arif dari para pendiri bangsa.

Menurutnya, para pendiri bangsa telah menggali pokok-pokok pikiran dari berbagai literatur keagamaan serta dengan memperhatikan keaneka ragaman suku dan budaya bangsa melahirkan ideologi yang disebut Pancasila.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat menerima cinderamata dari Romo Aloys Budi Purnomo dalam acara Ruwatan Negeri Pancasila. (ft.arh)

“Jika kalau 74 tahun yang lalu para petinggi bangsa sudah menentukan seperti itu, kemudian masyarakat hidup secara damai,” katanya.

Karena itu, menurut dia, jika ada pihak-pihak yang bermaksud mengungkit kembali dan mengganti Pancasila dengan khilafah sama halnya sebuah kemunduran. “Maka kalau ada pikiran-pikiran nakal dari orang sehat yang tidak waras itu, Indonesia akan mundur pada 74 tahun lalu,” tandasnya.

Selain itu, Hendi mengungkapkan kekagumannya terhadap Presiden Joko Widodo dalam memimpin Indonesia. “Kita lihat perkembangan Indonesia dari hari ke hari semakin oke. Di mata dunia luar, Indonesia semakin diakui eksistensinya. Di dalam negeri ini Indonesia juga lebih baik jika diperhatikan dari berbagai indikator statistik pembangunan,” akunya.

Sementara, bertindak sebagai tuan rumah Kepala Campus Ministry Unika Soegijopranata Semarang Romo Aloys Budi Purnomo Pr menjelaskan secara filosofis berbagai simbol yang ada dalam ruwatan tersebut. Tempeng berbentuk gunungan merupakan simbol gunung.

Gunung sebagai tempat berlindungnya manusia, katanya, sebagai tempat menyimpan air, menyimpan energi yang besar, memiliki kesuburan yang menumbuhkan berbagai sayuran dan bunga-bunga yang harum. Karena itu gunung harus dijaga, dirawat kelestarian ekologinya. “Karena kalau ekologi ini rusal juga menjadi sukerta yang mengancam negeri ini,” terangnya.

Lebih lanjut mantan Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang itu mengingatkan bahwa gunung memiliki puncak, yang disebutnya sebagai perwujudan simbol tauhid atau keesaan Tuhan. Karena itu gunung ia simbolkan dengan berbagai sayuran dan bunga-bunga.

Diakhir wawancara, Romo Budi menuturkan gunung, sayuran, dan bunga sebagai pelambang kesuburan, keragaman yang disatukan dapat menghasilkan sesuatu yang sangat bernilai, dan kelapa muda yang unggul yang disebut Degan Wulung merupakan obat, berbau harum dan terasa manis. “Harum dan manis, harmonis,” pungkasnya. (arh)