Rais Syuriah PWNU Jateng Isi Nuzulul Quran, Santri Kritis Tanyakan Peran Hermeneutika

by
Peringatan Nuzzulul Quran PP Durrotu Aswaja Gunungpati Semarang (ft.istimewa)

SOROTNUSANTARA.COM , SEMARANG – Santri dan perkembangan zaman terus berdialektika dalam mengasah dan menambah wawasan keilmuan. Hermeneutika sebagai salah satu teori filsafat diajukan dalam pertanyaan santri PP Durrotu Ahlissunnah Waljamaah atau yang dikenal dengan PP Durrotu Aswaja (PPDA) Gunungpati, Kota Semarang pada Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidillah Shodaqoh saat mengisi Peringatan Nuzulul Quran, Selasa (28/5/2019) malam.

Kiai Ubaid menerangkan, hermeneutika merupakan istilah dalam filsafat asing yang dibawa ke dalam Islam sebagai sarana untuk memperkaya secara keilmuan saja. Belum tentu bisa dijadikan sebagai acuan tafsir yang dapat diaplikasikan. Alquran secara tekstual merupakan teks suci yang mengandung banyak rahasia dari pilihan diksinya, seperti lafal Alhamdulillah, kok tidak khamidallah atau yang lainnya.

Dengan adanya pertanyaan tersebut, Kiai Ubaid mengingatkan, pada tahun 1996 Gus Dur pernah menyebarkan tulisan kepada para kader dan kiai tentang wacana tafsir untuk memperkaya khazanah keilmuan. Namun karena tulisan tersebut bercampur antara huruf teks arab dengan huruf latin, buku tersebut banyak disingkirkan oleh para kiai pada saat itu. Lebih lanjut ditegaskan bahwa Alquran sebagai sebuah kitab suci berbahasa arab memiliki kekhasan dari sisi kaidah bahasa. “Sebab mu’jizat Alquran bisa dipahami dari sisi apa saja,” tandasnya.

Dia melanjutkan, kalau kepentingan pendidikan menggunakan teori hermeneutika sebagai metode memaknai sebuah teks, maka perlu dikaji lebih lanjut pula tentang teori lain yang lebih relevan. Oleh karena itu, dirinya menyarankan kalau ingin mempelajari cara mengupas Alquran dari sisi bahasa bisa mempelajari dari tafsir yang sudah ada seperti tafsir orang mu’tazilah yang populer di kalangan nahdliyyin, yakni tafsir Zamahsyari sebagai pembanding.

Salah satu tafsir lain yang disebutkannya adalah tafsirnya Ibnul Arabi, namun demikian kembali diingatkannya, banyak tasfir yang terkait permainan kata acap kali keluar dari konteks-konteks yang diharapkan. Kiai Ubaid melanjutkan, yang dianggap tafsir belum tentu tafsir sebab kurangnya pemahaman seseorang dalam membedakan antara tafsir dengan takwil.

Peringatan Nuzzulul Quran PP Durrotu Aswaja Gunungpati Semarang (ft.istimewa)

Selain menjawab pertanyaan santri, Kiai Ubaid juga mengkritisi merebaknya terjemah yang dijadikan sebagai sebuah dasar berargumen. Karena itu Pengasuh PP Al itqoon tersebut menegaskan, sebenarnya, terjemahan menurut adab Arab itu tidak ada dan haram. Bahasa itu tidak bisa diterjemahkan tapi hanya dialih bahasakan.

Tak hanya mengkritisi, Kiai Ubaid juga mengingatkan peran Alquran dalam menjawab pertanyaan manusia sebagaimana manusia mencari tahu tentang asal usulnya. Dicontohkannya, Darwin mencoba menjawab teka-teki tentang asal muasal manusia dengan teori evolusi, sementara Alquran sudah menegaskan bahwa manusia berasal dari manusia pertama yang bernama Adam.

Sementara, Pengasuh PPDA, K. Agus Romadhon dalam sambutannya menyatakan bahwa peringatan Nuzulul quran bukan sekedar untuk diperingati, akan tapi mengkaji tentang Alquran. Karena itulah dirinya mengingatkan mundurnya umat Islam karena meninggalkan Alquran.

“Kemunduran umat Islam itu karena meninggalkan Alquran,” ucapnya, “Umat islam pasca kolonialis menjadi terbelakang dari nasrani, dan yang lainnya,” imbuhnya.

Untuk dapat mengkaji Alquran sesuai dengan akidah aswaja, Kiai yang memiliki ratusan santri tersebut sengaja mendatangkan orang nomor satu di NU Jateng. Selajn itu, dirinya juga memberikan apresiasi terhadap para santri yang masih berada di pesantren. Hal yang luar biasa, katanya, saat ini para santri masih mengikuti rangkaian kegiatan yang telah dicanangkan oleh panitia dari sebelum Ramadan. Dari pengajian kitab, pasar murah, santunan sampai menuju panitia zakat. “Kita sudah terdaftar sebagai amil yang resmi mendapatkan SK dari Lazisnu Kota Semarang,” tandasnya. (arh)