,

Raih PSM Berprestasi Kota Semarang, Yusuf Hanya Ingin Bermanfaat untuk Masyarakat

oleh
Foto: dokumentasi Yusuf Effendy Marico saat menerima penghargaan dari Wali Kota Semarang.

SOROTNUSANTARA.COM , Semarang – Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) sebagai salah satu pilar kesejahteraan sosial pemerintah memiliki peran penting Dinas Sosial dalam menangani pelbagai kasus Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Peran PSM dilombakan tiap tahun sebagai evaluasi dan motovasi baginpara relawan Dinsos.

Yusuf Effendy Marico, pria kelahiran Kudus, 1 Januari 1970 yang kini tinggal di Perum Asabri Blok Z-XVII Nomor 16, Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang berhasil menyabet sebagai PSM Berprestasi tingkat Kota Semarang. Ia mendapatkan penghargaan dari Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dalam upacara Hari Jadi Kota Semarang, Minggu (2/5/2021) kemarin.

“Motivasi utamanya ya hanya ingin bermanfaat untuk masyarakat, kan sebagai umat Islam kita harus ingat khoirun-nas anfauhum lin-nas, seperti kata almarhum Gus Dur,” kata Yusuf usai kegiatan sosialisasi sistem rujukan dan penanganan PGOT di ruang Lokakrida, Gedung Moh Ihsan Lt 8 Balaikota Semarang, Jawa Tengah, Senin (3/5/2021).

Untuk diketahui, Yusuf Efendi tidak hanya aktif sebagai PSM di Kota Semarang. Namanya tercatat sebagai sekretaris Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Sendangmulyo dan salah satu Koordinator Tim Penjangkauan Dinsos (TPD) Kota Semarang.

Dalam profil pengajuan lomba PSM berprestasi tingkat Kota Semarang, ia melampirkan berbagai kegiatan pembinaan masyarakat di sekitar Tembalang. Ia sebut contohnya seperti pembinaan Kelompok Usaha Bersama (Kube) di RW 13 Perumahan Ketileng Indah, dan RW 20 Perumahan Bukit Sendangmulyo.

“Kita berdayakan masyarakat untuk membuat hand sanitizer sendiri di RW 13 Perumahan Ketileng Indah dan melakukan pencegahan Covid-19 di RW 20 Perumahan Bukit Sendangmulyo, waktu itu Kelurahan Sendangmulyo termasuk tinggi jumlah warga yang terkonfirmasi positif Covid-19,” bebernya.

Lebih jauh Yusuf menguraikan berbagai kegiatan tersebut, Kube merupakan bentuk program pendampingan perempuan rawan sosial. “Semula Kube ini hanya berorientasi pada pembuatan kue saja, tapi karena pandemi jadi berkurang omsetnya, jadi harus tetap bisa jalan, nah alhamdulillah ada bantuan dari Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kelurahan Sendangmulyo yang mau membina ibu-ibu membuat hand sanitizer mandiri, jadi selain bisa dijual juga digunakan sendiri untuk pencegahan Covid-19,” terangnya.

Komitmen Yusuf terhadap kegiatan kemanusiaan juga ia buktikan bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang. Menjadi relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) membuatnya memiliki keterampilan yang lebih untuk bisa membantu masyarakat yang membutuhkan.

“Alhamdulillah saya juga sebagai anggota Sibat PMI, jadi sudah mendapatkan pembinaan untuk bisa menguasai keterampilan pertolongan pertama dan mengurangi risiko bencana, termasuk bencana wabah Covid-19 ini,” akunya.

Foto: dokumentasi
Yusuf Effendy Marico saat menerima penghargaan dari Wali Kota Semarang.

Bersama PMI Kota Semarang, sekretaris Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Kelurahan Sendangmulyo ini juga mendorong masyarakat untuk aktif memantau berbagai potensi bencana alam dan aktif melakukan sosialisasi pencegahan Covid-19 serta menyalurkan bantuan bagi keluarga yang terkonfirmasi positif Covid-19.

“Sebagai relawan tentunya harus menyukseskan kegiatan kemanusiaan, baik relawan Dinsos maupun relawan PMI, kalau selama pandemi ini ya sosialisasi dan bagi masker, ini yang didukung oleh PMI Kota Semarang,” jelasnya.

Sementara, salah satu juri, Tri Waluyo mengatakan PSM sebagai salah satu pilar kesejahteraan pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat merupakan individu atau pribadi yang telah mengikuti berbagai pelatihan.

“PSM ini disahkan dengan SK (Surat Keputusan) dari Lurah, satu kelurahan bisa ada lebih daro satu, bahkan bisa dijadikan dalam wadah organisasi Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat atau IPSM, ini tergantung dengan sumber daya yang ada,” katanya.

Lebih lanjut Kabid Rehabilitasi Sosial ini menerangkan, yang utama dari PSM adalah bisa memanfaatkan berbagai potensi untuk bergerak bersama. Menurutnya, akan lebih bagus jika seorang PSM juga aktif di berbagai organisasi.

“Kalau ada PSM yang aktif di PMI atau PKK Pemberdayaan dan (Kesejahteraan Keluarga) malah bagus, bisa memanfaatkan jejaring sosial yang ada untuk mengurusi masyarakat,” tandasnya.

Atas torehan prestasi tersebut Tri Waluyo berpesan untuk semua Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) yang ada di lingkungan Dinsos Semarang untuk tak bepuas diri terhadap pelayanan yang ada.

“Kegiatan ini sejatinya sebagai bagian dari evaluasi, karena itu saya harap agar semua PSKS, baik PSM, TPD, Karang Taruna, dan sebagainya ini untuk jangan berpias diri, tetep istikamah karena kegiatan sosial kemanusiaan ini juga ibadah, karena kami, Pemerintah Kota Semarang tidak bisa memberikan sesuatu yang pantas untuk aktivitas ini, mudah-mudahan bantuan terhadap masyarakat ini dinilai ibadah dan diganjar oleh Allah Ta’ala,” tuturnya. (arh)