,

Pesantren di Kendal Ini Dorong Santri Kuasai Bahasa Inggris

oleh
Kepala BLKK Sabilunnajah Ustaz Mandzhur Labib saat memberikan tanda peserta. (arh)

SOROTNUSANTARA.COM , Kendal – Produk pesantren secara umum lebih banyak menghasilkan santri yang memiliki kemampuan sastra Arab untuk membaca kitab kuning atau mencetak santri penghafal Alquran.

Meski demikian, santri juga perlu didorong kompetensi tambahan, yakni kemampuan berbahasa Inggris untuk kepentingan study lanjut atau lainnya.

Oleh karena itu Pondok Pesantren Sabilunnajah yang terletak di Desa Penjalin Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah mendorong para santri untuk mampu berbahasa Inggris.

“Kita tidak tahu yang akan terjadi nanti. Siapa tahu ada yang berprestasi melanjutkan belajar di luar negeri. Mudah-mudahan saja begitu,” kata Kepala Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) Sabilunnajah Ustaz Mandzhur Labib memberikan motivasi dalam sambutan pembukaan pelatihan, Selasa (1/9/2020).

Gus Mandzhur, sapaannya, meminta agar para tutor menekankan pada kemampuan berbicara dan mendengar dalam pelatihan. “Pelatihan kali ini kita maksimalkan di laboratorium bahasa. Perbanyak speaking, listening dan conversation,” pesannya.

Menurutnya, dengan memanfaatkan laboratorium bahasa, para peserta yang umumnya santri Sabilunnajah tidak merasa asing mendengar contoh percakapan yang disajikan oleh internet.

“Kalau yang berbicara bahasa Inggris itu para tutor atau saya, mungkin masih bisa didengarkan atau banyak kata dan ungkapan yang dipahami. Sedangkan ketika mendengarkan orang asing kadang malah bingung,” jelasnya.

Kiai muda yang pernah menduduki Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah ini melanjutkan, metode pelatihan harus terus dikembangkan agar para peserta tidak pasif dalam menerima materi pelatihan.

“Mungkin yang juga perlu ditekankan masalah simulasi atau praktik sesuai kurikulum pelatihan yang telah dirumuskan,” tandasnya.

Sementara, salah satu tutor BLKK Sabilunnajah, Muslikh mengungkapkan kendala yang ia hadapi selama pelatihan sebelumnya adalah mentalitas peserta.

“Dari dua pelatihan sebelumnya, kendala kita adalah masalah kepercayaan diri. Banyak peserta yang sebenarnya mampu tapi pasif dalam menanggapi instruksi tutor,” bebernya.

Untuk itu ia meminta agar santri yang mengikuti pelatihan kedua tahun anggaran 2020 memiliki semangat belajar dan memupuk kepercayaan diri agar produk pelatihan bisa mendekati standart kompetensi yang telah ditetapkan.

“Malu memang sebagian dari iman, tapi dalam hal belajar itu jangan malu. Sebab, kalau malu-malu malah tidak bisa-bisa,” terangnya.

Ia juga menyoroti tentang waktu yang rawan kantuk. Sebagaimana diketahui, waktu aktifitas santri di pesantren cukup padat. Hal ini lantaran kegiatan mengaji, menghafalkan nadzam, menghafalkan Alquran, mujahadah malam dan sebagainya telah menjadi menu harian yang paten.

“Kalau pas jam siang, ini biasanya berat. Pas lagi ngantuk-ngantuknya. Jadi, kalau ngantuk mau cuci muka atau wudlu, jangan segan-segan untuk minta izin pada tutor,” pungkasnya. (arh)