Peringati Haul, Bukti Kebersamaan Umat dengan Ulama

by
KH Mu'tashim Shodaqoh saat menyampaikan maudizah hasanah peringatan Haul KH Shodaqoh Khasan di PP Al Itqoon Bugen Semarang. (ft.istimewa)

SOROTNUSANTARA.COM , SEMARANG – Peringatan meninggalnya seorang ulama merupakan salah satu bukti kebersamaan umat dengan ulama diharapkan terjaga dari hidup hingga telah kembali pada Sang Khalik. Hal ini diungkapkan oleh KH. Achmad Fauzi Shodaqoh dalam Haul KH Shodaqoh Khasan ke 31 di halaman Masjid Baitul Latif, kompleks PP Al Itqoon Bugen Tlogosari Wetan Pedurungan Semarang, Jumat (7/6/2019) malam.

Dikatakan, KH Shodaqoh merupakan menantu pendiri PP Al Itqoon yang meninggal pada tahun 1988. “Haul ini bukti kita ini benar-benar bersama-sama dengan para ulama,” ucapnya dalam Bahasa Jawa.

Lebih lanjut, salah satu pengasuh PP Aribathul Islami (PP ARIS) Kaliwungu Kendal ini mengucapkan terima kasih atas kehadiran para jamaah maupun alumni yang hadir untuk menghormati haul KH Shodaqoh Khasan.

KH Mu’tashim Shodaqoh saat menyampaikan maudizah hasanah peringatan Haul KH Shodaqoh Khasan di PP Al Itqoon Bugen Semarang. (ft.istimewa)

Sementara, KH Mu’tashim Shodaqoh dalam mauidzahnya mengingatkan tentang hal yang tidak disukai oleh umat manusia, padahal hal tersebut merupakan pintu menuju kebebasan atas belenggu dunia. “Ada dua hal yang paling dibenci oleh anak turun Adam,” tuturnya.

Kiai Mu’tashim menuturkan hal yang pertama dari yang dia maksudkan adalah membenci mati. Hal ini merupakan fenomena kontraproduksi terhadap Nabi Muhammad SAW yang mensunnahkan umatnya untuk dzikrul maut atau mengingat mati.

Dunia diibaratkan sebagai penjara bagi orang mukmin, katanya, dan mati merupakan bentuk terlepasnya seorang mukmin dari belenggu dunia, namun demikian mati merupakan sesuatu yang dibenci oleh manusia.

Pesan lain yang disampaikan tentang dua kalam, yaitu kalam yang terucap dan kalam tak terucap. Dijelaskannya kalam yang terucap adalah Alquran, sedangkan kalam yang tak terucap adalah mati.

Selain itu, dia menyampaikan bahwa orang yang mengingat mati dalam keadaan tanpa beban dunia lebih ikhlas dibanding dengan yang mengingat mati di kala memiliki kemewahan dunia. (afis/arh)