Penguatan SDM, KSR Masa Depan PMI

by
Awal Prasetyo saat menerima kunjungan dari Partner for Resilient Negara Philipina & Kenya (ft.doc)

SorotNusantara.com , Semarang – Perkembangan sebuah organisasi harus ditopang denga mekanisme kaderisasi yang baik. Bagi Palang Merah Indonesia (PMI), relawan yang ada, baik yang terwadahi dalam Palang Merah Remaja (PMR), Korp Sukarela (KSR), maupun Tenaga Sukarela (TSR) merupakan sumber daya manusia (SDM) yang harus dirawat dengan baik.

Wakil ketua PMI Kota Semarang bidang kerelawanan, Dr. dr. Awal Prasetyo, MKes saat diminta keterangan pers tentang open recruitmen KSR PMI Markas Kota Semarang mengungkapkan makna KSR bagi PMI.

“KSR merupakan tulang punggung dan ujung tombak PMI, sebagaimana orang muda Indonesia yang menjadi harapan masa depan Bangsa. Oleh karena itu, diperlukan pribadi – pribadi anggota KSR yang spesial, baik dalam hal jumlah maupun mutunya,” kata Awal, Rabu (13/3/2019)

Seorang anggota KSR, lanjutnya, harus selalu sadar untuk mengabdi bagi tugas kemanusiaan dalam mewujudkan peranan PMI dengan melakukan berbagai upaya agar dapat menyelesaikan tugas dengan sempurna.

Awal menilai aktifitas KSR sebagai sebuah organisasi harus sebisa mungkin untuk bekerja dalam tim yang terorganisir. Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan profesionalisme insan palang merah yang terus beradaptasi dalam proses regenerasi.

“KSR sebagai lembaga harus mampu mengemban tugas dan tanggung jawab yang lebih besar, sebagai tulang punggung dan ujung tombak, dalam kesatuannya dengan PMI sebagai perhimpunan. Oleh karenanya, KSR sekaligus harus mempersiapkan diri untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dan kepengurusan PMI demi kelestarian nilai-nilai kepalangmerahan,” terangnya.

Awal Prasetyo saat menerima kunjungan dari Partner for Resilient Negara Philipina & Kenya (ft.doc)

Selain menyoroti pola keorganisasian, Awal mengingatkan Undang-undang kepalangmerahan yang mana disebut di dalamnya dinamika kaderisasi yang menekankan aspek pembinaan relawan.

“Pembinaan relawan, termasuk KSR adalah amanat undang-undang kepalangmerahaan, yang dimulai dari perekrutan, pendidikan dan pelatihan, serta juga kaderisasi kepengurusan PMI. Oleh karena itu, rekrutment KSR diarahkan juga pada bimbingan terhadap berbagai kebijakan, koordinasi, pemantauan, dan evaluasi dinamika PMI. Tujuan akhir dari proses ini adalah untuk mendapatkan SDM yang kapabel dan mampu memberdayakan masyarakat, serta siap mengambil alih keberlangsungan PMI di masa depan,” bebernya.

Perkembangan zaman memiliki perbedaan tuntutan kompetensi. Oleh karena itu, Awal mengungkapkan perbedaan karakteristik dan kompetensi yang semestinya dicapai. “KSR masa lalu lebih menekankan pada pembinaan potensi lapangan. KSR masa sekarang juga wajib menguasai hal itu, tentunya dengan ditambah penguasaan IT dan menyiapkan kompetensi masa depan untuk pelestarian nilai kepalangmerahan. Hal ini sekaligus bervisi futuristik dalam menjamin keutuhan dan perkembangan perhimpunan PMI,” pungkasnya.

Kepala Markas PMI Kota Semarang, Endang Puji Astuti menambahkan, profesionalitas dalam menjalankan tugas di lapangan bertumpu pada relawan. “Dalam banyak kegiatan, para relawan, terutama KSR yang menjadi tumpuan PMI, baik itu dalam sebuah even yang membutuhkan tenaga paramedis maupun respon cepat,” ucapnya. Oleh karena itu, sambungnya, para pengurus terus mengupayakan fasilitas maupun program pelatihan yang mendukung kinerja para relawan. (arh)