,

Pelita Desak Mbah Moen Jadi Pahlawan Nasional, Dasarnya Keppres

by
Para pegiat Pelita melakukan doa lintas agama secara bergantian untuk mengenang KH Maimoen Zubair di Pastoran Unika Soegijopranoto Semarang.

SorotNusantara.com , Semarang – Setiap perilaku manusia akan dikenang oleh generasi setelahnya, baik maupun buruk akan melekat erat pada dirinya. Semakin baik seseorang maka semakin harum orang mengenang nama dan jasanya. Terkini, K.H. Maimoen Zubair atau yang akrab disebut Mbah Moen yang wafat pada 6 Agustus lalu saat menunaikan ibadah disebut layak menjadi pahlawan nasional.

Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang, Romo Aloys Budi Purnomo Pr menyatakan kekagumannya pada Mbah Moen. Menurutnya, jasa Mbah Moen demikian besar dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, bahkan hingga akhir hayatnya, Mbah Moen pun tetap mengajarkan nasionalisme dan patriotisme serta cinta NKRI kepada para santri dan seluruh masyarakat.

Memperhatikan hal itulah, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang mendesak Presiden RI Joko Widodo untuk mengangkat Mbah Moen sebagai pahlawan nasional.

“Jasa perjuangan Mbah Moen sudah jelas. Sejarah bisa membuktikan bila Mbah Moen itu tokoh agama yang mengajarkan nasionalisme dan patriotisme kepada santri dan seluruh masyarakat. Sampai akhir hayat, beliau untuk NKRI. Jadi kami mendesak Presiden Jokowi keluarkan Kepres untuk menjadikan Mbah Moen sebagai Pahlawan Nasional,” ujar Romo Aloysius dalam acara Doa Bersama 7 hari meninggalnya Mbah Moen yang digelar Pelita dan Gusdurian di Pastoran Johannes Maria Unika Sugijopranoto, Jalan Pawiyatan Luhur Selatan, Bendan Duwur, Banyumanik, Kota Semarang, Senin (12/8/2019) malam.

Diiringi saxophone Romo Budi, para pegiat Pelita melakukan doa lintas agama secara bergantian dengan khusyu untuk mengenang KH Maimoen Zubair di Pastoran Unika Soegijopranoto Semarang.

Romo Budi melanjutkan, dirinya mengakui bahwa semasa Mbah Moen hidup tidak pernah membenturkan keindonesiaan dan keislaman. Sebaliknya, pastur aktifis Pelita ini berpendapat, Mbah Moen justru menyatukan Islam dan Indonesia yang saat ini muncul perspektif Islam Nusantara.

Romo Budi mengungkapkan sedikit kenangan semasa bertemu Mbah Moen. Menurutnya, Mbah Moen memiliki aura positif yang menyejukkan. “Ada aura sejuk di dalam diri Mbah Moen. Selama beberapa kali saya sowan bertatap muka, beliau selalu menyampaikan persatuan nasional, dengan kerukunan umat beragama. Soal Islam, beliau menyatukan Keislaman dan Keindonesiaan dalam perspektif Islam Nusantara,” tuturnya.

Romo Budi menyatakan hal tersebut bukannya tanpa alasan. Sebab, semasa Mgr. Albertus Soegijapranata wafat pada tanggal 22 Juli 1963, Presiden RI pertama, Ir. Soekarno mengeluarkan Surat Keputusan Presiden (Keppres) No. 152 tahun 1963 tertanggal 26 Juli 1963 yang menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.

Tak hanya itu, Presiden Soekarno juga menganugerahkan penghormatan kepada Mgr. Albertus Soegijapranata dengan pangkat Jenderal TNI Kehormatan sebagaimana tertuang dalam Kepres/Panglima Tertinggi ABRI No. 223/AB-AD tertanggal 17 Desember 1964 dan berlaku sejak tanggal wafatnya Mgr. Soegijapranata, 22 Juli 1963.

“Ini dasarnya mengapa saya menyerukan Mbah Maimoen jadi pahlawan,” tegasnya.

Karena itu, agar bangsa ini bisa selalu mengenang dan meneladan sosok Mbah Moen, sebagai warga bangsa Indonesia dan NKRI, saya berharap dan memberanikan diri mengusulkan kepada Presiden Jokowi agar berkenan segera menetapkan KH Maimoen Zubair sebagai Pahlawan Nasional. Saya yakin, dengan penetapan itu, pesan-pesan kebangsaan yang selama ini selalu disampaikan Mbah Maimoen akan tetap dapat diwariskan dan dilanjutkan secara otoritatif bagi generasi masa depan.

Para pegiat Pelita Semarang berfoto bersama seusai acara

Ketua Pelita Semarang, Setiyawan juga mengungkapkan duka mendalam atas wafatnya K.H. Maimoen Zubair tidak hanya dirasakan oleh umat muslim saja.

“Bukan hanya para santri dan umat islam saja yang berduka, melainkan juga umat dari berbagai agama dan kepercayaan turut merasakan kehilangan sosok Guru Bangsa seperti beliau,” ucapnya.

Sebagai wujud cinta dan empati, sambungnya, beberapa tokoh lintas agama dan kepercayaan berkumpul untuk memperingati 7 hari wafatnya KH. Maimoen Zubair. Doa lintas agama dan kepercayaan dilantunkan mengiringi kepergian KH. Maimoen Zubair ke haribaan Sang Pencipta.

“Doa bersama untuk para tokoh biasa menjadi sarana mengenang dan mengambil teladan seperti KH. Maimoen Zubair ini harus kita ikuti demi menjaga keutuhan NKRI,” ringkasnya. (arh)