Pelajar Ideal Dalam Sabilunnajah Most Wanted

by
Siswa-siswi tengah mengikuti babak gugur dalam Sabilunnajah Most Wanted, dalam peringatan HUT Kemerdekaan ke 74 RI.

SorotNusantara.com , Kendal – Setiap guru tentu mendambakan pelajar yang ideal. Beragam metode dilakukan untuk mendapatkannya. Untuk mengetahui hal itu, Madrasah Tsanawiyyah (MTs) Plus Sabilunnajah, Desa Penjalin, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal mengadakan Sabilunnajah Most Wanted dalam lomba peringatan hari ulang tahun kemerdekaan ke 74 Republik Indonesia.

Menurut Ketua panitia kegiatan, Aulia Nur Lita kegiatan tersebut merupakan hal baru di lembaga pendidikan tersebut. Biasanya tak ubahnya di kampung, hanya berisi lomba non akademik yang bersifat permainan keakraban model out bond, berubah menjadi beraroma kompetisi. “Jenis perlombaan kali ini lebih fresh karena mencakup 2 bidang, akademik sekaligus non akademik,” ungkapnya, Senin (19/8/2019).

Lita berharap, kegiatan tersebut dapat memberi pemahaman pada siswa bahwa perlombaan peringatan kemerdekaan Indonesia itu tidak hanya untuk sekedar bersenang-senang. Lebih dari itu agar mampu memaknai perjuangan yang direpresentasikan lewat kegiatan perlombaan. Karenanya ia mengibaratkan euforia kemerdekaan sebagaimana kemenangan dalam lomba.

Salah satu siswi sedang mengikuti lomba baca kitab kuning dalam peringatan hari ulang tahun kemerdekaan ke 74 Republik Indonesia di MTs Plus Sabilunnajah.

Lita menjelaskan, Sabilunnajah Most Wanted sejatinya berbentuk cerdas cermat, namun secara konsep lomba tersebut memiliki maksud untuk menunjukkan pada siswa tentang pelajar Sabilunnajah yang ideal. Yakni siswa dengan kriteria mempunyai kompetensi sebagaimana yang dilombakan. “Selain berakhlak terpuji, Sabilunnajah Most Wanted harus pandai dalam sejarah, terutama yang berkaitan dengan keNUan,” jelasnya.

Lebih lanjut, guru Mapel IPA ini mengakui banyak hal yang perlu diperbaiki untuk kegiatan selanjutnya. “Ini masih tahun pertama kita ubah bentuk lombanya. Jadi masih perlu perbaikan. Nanti setelah kita evaluasi, tentunya akan kita upayakan perbaikan seperlunya, baik dari sisi konsep, pelaksanaan maupun target,” akunya.

Sementara, Kepala MTs Plus Sabilunnajah Moh Khusen mengungkapkan hal tersebut sebagai bagian dari strategi pembelajaran untuk memacu kompetensi dan prestasi siswa. “Kali ini kita coba semacam olimpiade. Jadi, hari ini disamping ada permainan, juga ada perlombaan yang bersifat atletik dan akademik. Intinya untuk memacu kompetensi siswa,” kata Khusen.

Lebih lanjut Khusen menerangkan, kolaborasi perlombaan yang dimaksudkan diantaranya; Lomba Futsal, Lomba Baca Kitab Kuning ‘Safinatunnajah’ untuk kelas 9 dan Akhlakul Lil Banin bagi kelas 8, Lomba Cerdas Cermat. “Ada yang bernuansa akademik dan atletik. Hanya saja, ada lomba tarik tambang dan balap helm. Jadi belum bisa disebut olimpiade,” terangnya.

Siswa-siswi tengah mengikuti babak gugur dalam Sabilunnajah Most Wanted, dalam peringatan HUT Kemerdekaan ke 74 RI.

Salah seorang siswi, Dewi Farihatul Zumarotus Syarifah merasa senang dengan nuansa baru tersebut. “Perlombaan yang diadakan hari ini sangat seru dan menyenangkan sekali, rame, karna ada yang baru jenis lombanya,” katanya. Karenanya siswi kelas 8 tersebut berharap ada kelanjutan di lain kesempatan,” besok adain lagi,” sambungnya.

Hal senada diungkapkan Fanila Wahyu Puspita Sari, siswi kelas 9 ini merasakan lain dari yang sebelumnya. “Lombanya menyenangkan, rame, menambah kekompakan, seru dan menang ataupun kalah tetap semangat,” akunya.

Apresiasi juga diberikan oleh Ketua Yayasan Sabilunnajah Kiai Mandzur Labib yang menyatakan kegiatan tersebut sebagai langkah maju dalam memacu para siswa. “Inovasi yang bagus harus didukung. Yayasan sangat menghargai dan berterima kasih untuk itu,” tuturnya.

Gus Labib, sapaan akrabnya, melanjutkan, inovasi tersebut sesuai dengan karakteristik Nahdlatul Ulama. Yakni melestarikan sesuatu yang relevan dan mengakomodir hal baru yang lebih relevan. “Sesuai kaidah keNUan, Al Muhafadzatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Kalau menurut KH Hasyim Muzadi malah sudah bil ajdadil ashlah. Jadi sudah semestinya banyak hal baru yang relevan untuk perbaikan,” pungkasnya. (arh)