,

Orang Tua Telantar Akibat Keluarga Entah Kemana

oleh
Koordinator TPD Dwi Supratiwi saat menemui ketua RT setempat. [doc]

SorotNusantara.com , Semarang – Solicha (68 th), warga Kinibalu Timur no 112 tak dapat menikmati masa tuanya. Meski buah hati yang telah ia rawat hingga dewasa telah hidup mandiri, ia terpaksa harus menjalani hidup serba berkekurangan, bahkan untuk bisa makan ia dapatkan dari belas kasihan tetangga.

Kisah ini bukan sebatas dongeng belaka, Tim Penjangkauan Dinas Sosial (TPD) Kota Semarang mendapati fakta ini dalam penjangkauannya semalam.

“Mulanya kami menindaklanjuti laporan dari bapak Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, bapak Muthahar. Informasinya ada salah satu warga Tandang lansia yang tidak bisa makan,” kata Koordinator TPD, Dwi Supratiwi disela kegiatannya di Tembalang, Rabu (1/7/2020).

Mendapati informasi tersebut, beberapa personil TPD langsung menuju ke kediaman Ketua RT setempat untuk memastikan dan mencari data-data terkait hal itu.

Kepada TPD, Ketua RT 4 RW 3, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, Ruspartono menjelaskan bahwa Solicha mempunyai 3 anak, yang pertama seorang perempuan tinggal di Bali, anak keduanya laki-laki hidup di Surabaya, dan ketiga putri ragil yang tinggal bersama Solicha.

“Anak pertama dan kedua sudah tidak pernah lagi mengunjunginya. Sedangkan anak ketiga bekerja sebagai asisten dokter di Krokosono dan jarang sekali pulang,” ungkap Tiwi, sapaan akrabnya.

Tiwi melanjutkan, menurut informasi yang ia dapat dari Ruspantono, dikatakan bahwa Solicha termasuk dalam kategori lansia tidak mandiri, “Bahkan pak RT sampai menjadwalkan setiap warga untuk memberi makanan ke ibu Solicha. Ia ditinggal suaminya bersama istri mudanya,” bebernya.

Usai melakukan pendataan, aktifis Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) Kota Semarang ini segera melaporkan temuan tersebut, “Untuk saat ini biar dirawat oleh warga setempat, dari TPD yang mengusahakan untukencari keberadaan anak ketiganya,” jelasnya.

Terkait hasil penjangkauan semalam, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Tri Waluyo membenarkan. Dikonfirmasi terpisah, dirinya turut prihatin atas kejadian keluarga yang abai terhadap orang tuanya, “Kami perhatikan warga, khususnya ketua RTnya dalam kasus tersebut telah menerapkan salah satu bentuk rehabilitasi sosial berbasis masyarakat. Jadi, warga belum perlu atau bahkan tidak perlu dipindahkan ke panti karena kepedulian masyarakat sekitarnya,” terangnya.

Meski demikian, pihaknya akan terus berkoordinasi untuk mendapatkan solusi terbaik bagi kasus tersebut, “Ini hampir sama dengan yang dulu di Semarang Utara. Bahkan, RTnya dengan tegas menolak warganya untuk dibawa ke panti dengan alasan sumber pahala bagi warga sekitar,” pungkasnya. (arh)