Nikmati Suasana Pagi di Aloon-aloon Masjid Agung Semarang

oleh
Dua orang gadis remaja nampak sedang memperhatikan hasil swafoto di aloon-aloon MAS. (arh)

SOROTNUSANTARA.COM , Semarang – Antusias masyarakat untuk menjaga kesehatan dan berwisata semakin meningkat. Hal ini nampak dari meningkatnya warga yang mengikuti senam yang digelar setiap Minggu pagi di Aloon-aloon Masjid Agung Semarang (MAS) Kauman, Semarang Tengah.

Kepala Badan Pengelola Masjid Agung Semarang, KH Khamad Makshum Turmudzi AH merasa bersyukur keberadaan Aloon-aloon MAS memberikan manfaat bagi warga Kota Semarang, khususnya warga Kauman.

“Alhamdulillah masyarakat antusias, banyak yang datang, perekonomian juga sudah mulai pulih dengan pedagang kecil di depan masjid (MAS),” kata Gus Khamad pada beberapa awak media, seusai senam, Minggu (13/9/2020).

Perlu diketahui, aloon-aloon merupakan bagian dari sejarah MAS yang sempat hilang. Pengembalian aloon-aloon baru dilakukan pada periode Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dengan memindahkan Pasar Yaik ke Pasar Johar Baru di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di era kenormalan baru ini juga diiringi dengan kebijakan Peraturan Wali Kota (Perwali) yang mengatur aktifitas masyarakat, terutama terkait dengan adanya potensi kerumunan masyarakat.

Meski pemerintah saat ini sudah mulai membuka sektor industri pariwisata, bukan berarti perijinan kegiatan senam pagi di aloon-aloon dipermudah. Sebab, hal ini tak menutup kemungkinan potensi munculnya klaster Covid-19,

“Memang awalnya ada perdebatan berat antara pemerintah dan masyarakat. Namun Kita (MAS) menjembatani antara kepentingan masyarakat dengan pemerintah,” ungkapnya.

Dua orang gadis remaja nampak sedang memperhatikan hasil swafoto di aloon-aloon MAS. (arh)

Terkait adanya kerumunan massa di lokasi tersebut, Gus Khamad menyebut hal tersebut masih dalam batas kewajaran, “Sudah kita mulai selama tiga bulan. Memang ada plus minusnya. Kalau ada kerumunan ya kerumunan kecil,” ucapnya.

Menurutnya, aktifitas tersebut tak beda jauh dengan kegiatan bagi penyintas Covid-19 di rumah dinas Wali Kota Semarang, “Saya mengajak yang belum ikut untuk ikut karena ini manfaat,” kata Gus Khamad menutup wawancara.

Selain senam, pihak MAS melalui Unit Usaha yang mengelola kegiatan itu juga memberikan alunan musik. Berdasarkan pantauan, suara musik setelah senam tak berlangsung lama. Sebab, masyarakat secara otomatis bubar atau menikmati makanan yang dijajakan pedagang di area depan masjid.

Meski begitu, masih ada beberapa anak bermain bola dan bermain bulu tangkis, sementara orang tuanya menunggui tak jauh dari mereka. Ada juga yang memanfaatkan kecerahan pagi untuk berburu foto konten media sosial.

“Baru kali ini. Biasanya di rumah. Tidak pernah ikut car free day,” kata Erviya Anandadhu (17 th) warga Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara yang berswa foto bersama kawannya.

Ada juga Evo Elvaro (22 th), pemuda asal Pucanggading, Kabupaten Demak yang mengaku ikut kegiatan tersebut untuk menemani kawannya yang berjualan keliling, “Baru pertama ini ikut senam. Nemeni dia aja jualan aja,” ujarnya.

Senam juga diikuti Sri Lestari (40 th), warga Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara yang datang bersama putranya, “Baru 3 minggu ini ikut senam. Sekalian ngawasi anak bermain bersama teman-temannya,” kata Sri.

Sri yang sudah memiliki perkerjaan saat ditanya peluang usaha pun mengaku tertarik untuk berjualan dalam momen senam pagi tersebut. “Sebenarnya sih pingin (jualan) tapi tempatnya sudah penuh,” tuturnya.

Sebagai informasi, proses pembangunan aloon-alon memang sudah selesai. Namun demikian, Pemerintah Kota Semarang dalam rencananya akan membangun area lapak pedagang kecil dan sarana lain di sekitar alon-alon MAS. (arh)