Materi BLK Lebih Simpel dan Mudah Dipahami

by
Peserta Dikdas Bahasa saat mengikuti sesi microtaeching di BLK Surakarta

SOROTNUSANTARA.COM , SURAKARTA – Paparan materi dan metode yang diterapkan di Balai Latihan Kerja dinilai lebih simpel dan mudah dipahami. Hal ini dikatakan oleh salah satu peserta pelatihan Pendidikan Dasar (Dikdas) Bahasa di BLK Surakarta dari PP Falahul Muhibbin Watugaluh Jombang, Zuhdi Ahsan.

“Saya sudah pernah mengikuti pelatihan K-13 di Jombang, ada microteaching juga,” kata Zuhdi disela kegiatan, Selasa (10/9/2019). “Bedanya, materi di BLK lebih simpel dan mudah dipahami. Sehingga dalam apilikasinya lebih mudah,” sambungnya.

Selain itu, lanjutnya, meski memiliki kesamaan dalam session plan, namun secara desain administrasi dan penerapan dalam microteaching di BLK lebih jelas dan lebih detail arahnya. Oleh sebab itu ia berharap pengalaman selama pelatihan dapat diaplikasikan di berbagai kesempatan.

Perlu diketahui, Dikdas jurusan Bahasa saat ini telah memasuki tahap akhir. Sehingga para santri yang menjadi peserta tengah disiapkan untuk mengikuti uji kompetensi sebagai instruktur di Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) Pesantren. Dalam menggodok peserta, para instruktur menggembleng peserta dengan serangkaian kegiatan teori dan praktik di laboratorium microteaching. Untuk diketahui pula, pembangunan gedung BLKK yang ada di pesantren juga sudah memasuki tahap lanjut.

Foto bersama : Para peserta Dikdas Bahasa melakukan foto bersama seusai mengikuti persiapan uji kompetensi.

Menurut wali kelas Dikdas Bahasa, Riscy Devi Puspandari, BLKK dapat menunjang santri dan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan akan keterampilan lain. “Menurut saya, adanya BLKK ini membantu siswa pesantren dan mungkin juga masyarakat sekitar pesantren untuk mendapatkan keterampilan yang menunjang ilmu yang mereka dapatkan di pesantren,” kata Mrs Riscy.

Mrs Riscy melanjutkan, para santri yang mengikuti Dikdas memiliki skill yang cukup untuk menjadi instruktur. “Untuk calon instruktur ya sesuai yang dipelajari di metodologi. Mereka punya keterampilan materi teknis dan metodologi,” ucapnya.

Meski demikian, ia mengaku ada sebagian kecil peserta yang dinilai masih membutuhkan pendampingan agar memiliki kompetensi sesuai yang diharapkan. “Selama saya jadi instruktur, kendalanya biasanya menghadapi siswa yang berbeda-beda tiap angkatan. Ada yang fast, ada yang slow. Basic pendidikan mereka juga berbeda-beda. Apalagi karakter masing-masing, pasti berbeda,” jelasnya.