,

Malam Takbir Ngemis, Seorang Kuli Bangunan Terciduk Patroli PGOT

by
Kasie TSPO Anggie Ardhitia saat memimpin patroli PGOT semalam. (ft.doc)

SOROTNUSANTARA.COM , SEMARANG – Seorang pekerja “kuli” bangunan terciduk Tim Penjangkauan Dinsos (TPD) Kota Semarang lantaran kedapatan sedang mengemis di malam takbir. Pria berinisial S tersebut kini harus menjalani rehabilitasi di penampungan.

“Dalam suasana takbir berkumandang Tim Patroli IV yang bertugas menemukan pria tersebut sedang mengemis di Indomaret sebelah selatan RSUP Kariyadi,” Kasie TSPO Anggie Ardhitia seusai memimpin patroli, semalam, Selasa (4/6/2019).

Menurut Dadang yang menjadi koordinator tim patroli saat itu, TPD yang berpatroli langsung menangkap S. Selanjutnya diketahui S merupakan warga Genuk Karanglo RT.02/RW.02 Kelurahan Tegalsari Kecamatan Candisari Kota Semarang. “Usianya 68 tahun,” ucapnya.

Kasie TSPO Anggie Ardhitia saat memimpin patroli PGOT semalam. (ft.doc)

S mengaku bekerja sebagai kuli bangunan di pagi hari dan malam harinya meminta-minta untuk mencari tambahan. “Saat tertangkap ia membawa uang sebesar Rp. 2.712.000,” terangnya.

Selain berpatroli, sebelumnya TPD juga masih merespon laporan masyarakat seperti yang diungkapkan Nur Zaenab. TPD menindaklanjuti informasi dari seorang kelayan yang ibunya mengalami gangguan kejiwaan.

“Ibunya tinggal sendiri di rumahnya, daerah Mlatiharjo, Semarang Timur. Di rumah beberapa kali ibu tersebut melempar dengan kotoran dan teriak-teriak ke warga sekitar sehingga mengganggu warga,” ujarnya.

NW (58 th) memiliki anak perempuan yang sudah menikah dan tinggal bersama suaminya dengan alasan takut tinggal dengan ibunya dengan kondisi rumah penuh sawang, plafon rusak, sering kebanjiran dan sangat gelap.

Menurut anaknya, NW mengalami gejala psikosomatik semenjak ditinggal suaminya bekerja di Sulawesi Tenggara yang selanjutnya muncul orang ketiga. “Saat itu anaknya masih TK,” bebernya.

NW sudah sempat dibawa ke Cikarang untuk berobat oleh ibunya yang sekarang ini sudah meninggal. Saat ini, NW masih memiliki saudara di Mijen tetapi sudah tidak peduli dengan kondisi adiknya sampai putus silaturahminya. (arh)