,

Kunjungi Markas Ahmadiyah Indonesia, FKUB Jateng Belajar Manajemen TV

by
Kepala Produksi mta Indonesia saat menjelaskan berbagai program siaran mta pada rombongan FKUB Jateng di ruang editing studio mta. (sn.arh).

SorotNusantara.com , Bogor – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah mendapat kesempatan belajar tentang manajemen pertelevisian di markas Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Kampus Mubarak, Desa Pondok Udik, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/1/2020).

Ketua FKUB Jateng, KH Taslim Sahlan menyebut hal itu sebagai salah satu manfaat yang didapat dari sebuah kerukunan dan persatuan tanpa memandang perbedaan agama atau keyakinan, diantaranya bertukar pengalaman dan ilmu yang bermanfaat, “Hari ini kita di studio mta Indonesia. Di sini (studio), kita bisa mempelajari manajemen pertelevisian secara langsung,” ucapnya.

Menurutnya, para tokoh lintas agama bisa belajar dari Jemaat Ahmadiyah dalam memanfaatkan peran televisi untuk berdakwah secara ramah, menyampaikan pesan bahwa dengan memeluk agama atau keyakinan memberikan kedamaian dan kesejukan, “Mari ! kita gunakan media untuk menyampaikan pesan damai secara luas dan mendunia,” ajaknya.

Wakil Sekretaris FKUB Jateng, Iman Fadhilah mengatakan, pengelolaan televisi Ahmadiyah sudah menunjukkan keseriusan dan profesional, “mta sebagai media dakwah dengan sistem tertata rapi dan memiliki peralatan yang mendukung dakwah Jemaat Ahmadiyah. Hanya saja kurang dalam konten-konten multi kulturalisme dan islam yang moderat,” ujarnya.

Kepala Produksi mta Indonesia saat menjelaskan berbagai program siaran mta pada rombongan FKUB Jateng di ruang editing studio mta. (sn.arh).

Studio TV

Kepala Produksi mta Indonesia, Ahmad Mustafa menceritakan Moeslim Televition Ahmadiyah (mta) Indonesia dapat berdiri di Bogor secara mandiri, “mta Indonesia sejak berdiri pada tahun 1994 dibiayai sendiri, tidak ada iklan sama sekali,” kata Mustafa saat memandu rombongan di studio.

Mustafa menjelaskan, sementara ini studio mta Indonesia masih berada di gedung Quest House (rumah tamu) lantai 2, “Studio baru di tahun depan akan dibangun di lokasi lain tapi masih satu kompleks,” bebernya.

Untuk diketahui, terdapat 3 stasiun mta yang kesemuanya tersiar secara internasional. Untuk acara siaran kiriman dari Indonesia mendapatkan jam tayang 4 kali dalam sepekan, “Jadwal mta Indonesia masuk di mta Internasional pada Selasa, Rabu, Sabtu dan Minggu,” ungkapnya.

Mustafa mengakui, pada dasarnya mta sebagai sarana menyiarkan dakwah islam Ahmadiyah. Namun demikian, pada beberapa tahun ini telah menambah program yang dirasa kekinian dan lebih plural, “Sudah tidak hanya untuk siar Islam Ahmadiyah, tapi juga untuk mengabarkan yang ada di Indonesia, bisa mengangkat budaya dan pariwisata,” paparnya.

Untuk diketahui, mta Indonesia saat ini sudah memiliki setidaknya 18 program acara siaran, dan pertama kali mendapatkan jadwal live di mta Internasional pada Juni tahun 2000 di Jogjakarta. Disebutkan diantaranya terdapat program liputan khusus, seperti jalan-jalan untuk memperkenalkan keindahan Indonesia dalam tayangan Traveller, “Program ini mendapat apresiasi mta internasional,” ucapnya.

Ada juga semacam talk show yang menampilkan psikolog anak, atau bahkan tamu istimewa. Disebutkannya yang tayang belum lama ini, seorang yang hampir ikut berjuang bersama ISIS di Suriah. Selain itu ada juga program untuk even-even tertentu, “Kita kemarin juga ambil acara Haul Gus Dur di Ciganjur. Rencananya mau kita tayangkan di youtube dan mta Internasional,” ungkapnya. (arh)