,

Kritis Budaya Demokrasi, Ansor Minta Semua Pihak Kendalikan Diri

oleh
Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas. (istimewa)

SOROTNUSANTARA.COM , JAKARTA – Budaya kritis sebuah budaya negara demokrasi memang selayaknya dihargai. Namun demikian bukan berarti melahirkan budaya anarkis. Karena itu Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor meminta semua pihak untuk menghentikan tindakan kekerasan terkait aksi unjuk rasa mahasiswa menolak revisi UU KPK dan RUKHP di Jakarta dan berbagai daerah.

“Sikap kritis adalah sebuah keniscayaan di sebuah negara yang demokratis seperti Indonesia. Sebagai bagian agen perubahan sosial (agent of change), peran mahasiswa juga strategis dalam mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkeadilan,” kata Ketua Umum PP GP Ansor, H Yaqut Cholil Qoumas dalam siaran persnya, Rabu (25/9/2019).

Namun demikian, mahasiswa juga diminta konsisten untuk berpikir jernih dalam menyampaikan pendapatnya. Oleh sebab itu, Gus Tutut menegaskan aksi anarkisme harus segera disudahi agar tidak memicu kerawanan keamanan, politik, sosial maupun ekonomi yang lebih besar.

“Saatnya semua harus menahan diri agar tidak muncul korban lagi,” tegasnya.

Gus Yaqut menuturkan, GP Ansor sangat menyayangkan tindak kekerasan yang terjadi selama aksi demonstrasi di berbagai daerah. Lebih dari itu, dirinya juga meminta semua pihak untuk tidak mudah terpancing, agar tidak merugikan kepentingan masyarakat lainnya.

Menyikapi kondisi akhir-akhir ini, GP Ansor juga mengajak semua pihak untuk berpikir jernih dan matang. Ansor mempersilakan langkah mahasiswa yang berupaya mengkritisi kebijakan pemerintah karena dinilai melanggar nilai-nilai keadilan.

Pihaknya mendorong mahasiswa dan masyarakat menggunakan jalur yang tepat seperti berdialog dengan para anggota DPR. Menurutya, masih ada langkah legal lain yang lebih tepat dilakukan, yakni mengajukan peninjauan kembali (judicial review) ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Gunakan cara-cara yang demokratis untuk mewujudkan negara yang demokratis, bukan anarkistis,” tandasnya.

Langkah yang halus seperti dialog maupun judicial review, menurut Gus Tutut, juga penting agar perjuangan mahasiswa tidak dikotori dan ditunggangi oleh pihak-pihak lain. Di tengah situasi yang kian memanas saat ini, sangat mungkin banyak kelompok yang ingin memanfaatkan mahasiswa guna memuluskan kepentingan jangka pendeknya.

“Saya meminta mahasiswa tidak mudah tergiur dengan tawaran-tawaran yang justru mencelakai idealisme,” tuturnya.

Di sisi lain, GP Ansor juga meminta aparat keamanan melakukan upaya-upaya persuasif dalam menghadapi pendemo. Sebab itu, menurut Gus Tutut, aparat perlu mengedepankan cara-cara dialogis agar tercipta rasa keamanan dan ketenteraman. (arh)