,

Kepercayaan Masyarakat Kepada Tim Penjangkauan Dinsos Kian Meningkat, Jadi Rujukan Semua Kasus

oleh
Foto: istimewa. Kepala Dinas Sosial Kota Semarang Mothohar saat memberikan sambutan arahan.

SOROTNUSANTARA.COM , Semarang – Kota Semarang sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah harus memiliki pelayanan yang baik bagi warganya, terutama dalam penanganan sosial.

Namun, seiring dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap Tim Penjangkauan Dinsos (TPD) Kota Semarang, maka kasus yang ditangani bidang rehabilitasi sosial (Rehabsos) Dinas Sosial Kota Semarang menjadi bertambah.

“Hampir semua kasus masuknya di TPD, termasuk kasus ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa, -red) yang harusnya masuk ke Satpol PP,” kata Kabid Rehabsos, Tri Waluyo dalam sosialisasi sistem rujukan dan penanganan PGOT di ruang Lokakrida, Gedung Moh Ihsan Lt 8 Balaikota Semarang, Senin (3/5/2021).

Bahkan, lanjutnya masyarakat malah banyak mengandalkan TPD dari yang seharusnya bisa ditangani sendiri. “Ada ODGJ lapor TPD, ada orang hamil tidak punya suami lapor minta diantar ke rumah sakit oleh TPD, kalau semua ditangani TPD jelas programnya malah tidak jalan,” bebernya.

Ia juga mencontohkan kasus orang telantar yang ditangani oleh TPD, laki-laki yang harus menjalani pengobatan penyinaran di rumah sakit. Ia menjadi telantar sebab masa lalunya yang tidak memperhatikan keluarganya.

“Seperti kasus pendampingan yang didampingi Bu Kunti, itu harusnya tidak bergantung pada TPD, karena keluarga menolak, ini harusnya diupayakan rehabilitasi sosial berbasis masyarakat,” tuturnya.

Foto: rifqi
Kabid Rehabsos, Tri Waluyo saat memaparkan materi

Penanganan kasus orang telantar, kata Tri, diusahakan bisa kembali kepada keluarga. Oleh karena itu pihaknya mengupayakan adanya usaha para relawan TPD untuk melakukan reunifikasi dengan keluarga atau pemulihan hubungan keluarga.

“Kalau keluarga memang sudah tidak ada mau lagi yang merawat ya kita usahakan untuk rehabilitasi sosial berbasis masyarakat, masyarakat di lingkungan tersebut yang merawat, jangan semuanya diarahkan ke panti,” pesannya.

Menurutnya, konsep rehabilitasi sosial berbasis masyarakat perlu digalakkan. Sebab, Indonesia memang dikenal dengan budaya saling peduli di tengah masyarakat. Budaya tersebut kian terkikis oleh zaman yang menuntut orang harus giat bekerja, sehingga persoalan sosial yang ada menjadi terabaikan. “Jadi, tolonglah kita untuk kembali pada kearifan lokal kita, saling peduli, gotong-royong membantu sesama,” harapnya.

Tri Waluyo juga menegaskan penanganan anak jalanan juga harus diselesaikan bersama pihak-pihak yang konsen dan memahami psikologi anak. Ia berharap anak jalanan bisa disekolahkan dengan surat rekomendasi dari Dinsos Kota Semarang.

Foto: istimewa.
Kepala Dinas Sosial Kota Semarang Mothohar saat memberikan sambutan arahan.

“Bisa minta surat rekomendasi dari Dinsos untuk Dinas Pendidikan, harapannya tetep bisa sekolah dan gratis,” ungkapnya.

Sementara, pemerhati anak jalanan yang pernah meraih berbagai penghargaan nasional, Saniatus Shalichah mengingatkan agar para personel TPD lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas, utamanya terkait anak-anak. “TPD harus lebih berhati-hati dan melakukan analisis terhadap risiko sebelum melakukan penjangkauan, apakah ada anak di sekitar lokasi assesmen yang terdampak atau bahkan ketika yang diassesmen masih usia anak-anak,” ucapnya.

Sania lantas menjelaskan, kasus penangan orang dengan gangguan jiwa atau orang dengan masalah kejiwaan yang memiliki anak kecil. “Jangan sampai psikologi anak tersebut jadi terganggu karena melihat orang tuanya dibawa ambulans ke RSJ,” terang Icha, sapaan akrabnya.

Untuk itu Icha berharap ada pemetaan terhadap risiko dan bila mana perlu ada pembagian tugas atau pendamping khusus anak dalam menjangkau kasus yang demikian.

Icha juga menekankan agar para relawan hanya melakukan assesmen sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) TPD agar tidak berlaku over dengan layanan yang ada di Kota Semarang serta penting untuk melibatkan masyarakat dan memaksimalkan rehabilitasi berbasis masyarakat. “Sesuai harapan kita bisa menciptakan rehabilitasi sosial berbasis masyarakat,” pesannya.

Foto: rifqi
Kabid Rehabsos, Tri Waluyo saat memaparkan materi

Sementara, Kepala Dinas Sosial Kota Smarang, Muthohar mengakui kinerja TPD luar biasa, terlebih di Bulan Ramadhan ini tak jarang dirinya mendengar personel TPD sering berbuka puasa di dalam ambulans lantaran masih menjalankan tugas. “TPD memang luar biasa, tapi harus diingat bagaimana mekanisme rujukan,” ucapnya.

Ia berharap persoalan yang sudah ditangani bisa menjadi bahan evaluasi dalam memperbaiki mekanisme kerja TPD. “Saya harap hari ini bisa terselesaikan bagaimana solusi terbaik bagi masalah yang ada, terutama target reunifikasi dan rehabilitasi sosial berbasis masyarakat,” pesannya.

“Tetap jaga protokol kesehatan dan saya harap TPD juga bisa ikut menyosialisasikan vaksinasi disela-sela kegiatan penjangkauan,” katanya menutup pesan. (arh)