Kebutuhan Mendesak Bencana Alam Banjarnegara, Kesehatan dan Gas LPG

oleh
Relawan PMI Banjarnegara saat melakukan pendataan terhadap terdampak bencana di Banjarnegara (dok)

SOROTNUSANTARA.COM , Banjarnegara – Bencana tanah gerak yang terjadi di Desa Suwidak Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah dalam satu pekan ini membuat pengungsi dan warga terdampak bencana mulai membutuhkan dukungan beberapa bahan bantuan, baik berupa logistik maupun dukungan psikologis. Selain itu, pendampingan pelayanan lain diperlukan sebab mereka tidak tahu situasi darurat akan berlangsung hingga kapan.

“Saat ini kebutuhan dasar untuk pengungsi berangsur mulai berdatangan dari para donatur, sedangkan kekuatan logistik yang ada di Desa Suwidak hanya cukup untuk lima hari kedepan,” kata Ketua Bidang Penanggulangan Bencana Alam PMI Kabupaten Banjarnegara Andri Sulistyo, Selasa (15/12/2020).

Menurutnya, gas LPG menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk pelayanan dapur umum bagi pengungsi dan relawan selama masa tanggap darurat. “Stok logistik aman, hanya beberapa item seperti gas LPG hingga saat ini kami masih kesulitan,” ungkapnya.

Selain itu, kebutuhan hygiene kit atau perlengkapan mandi untuk pengungsi dan warga terdampak. Kebutuhan tersebut masih menjadi prioritas meski PMI Banjarnegara telah mendistribusikan beberapa paket perlengkapan mandi namun belum mampu menyasar ke seluruh warga terdampak.

Kendala di lapangan, rendahnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Hal ini menjadi salah satu tugas utama para relawan dalam mendidik masyarakat. Terlebih adanya dukungan donatur dalam bentuk masker dan gel cuci tangan praktis sehingga sangat bermanfaat untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 di area pengungsian dan di lokasi bencana alam.

Hal senada dikatakan Koordinator Lapangan Tanggap Darurat Bencana (TDB) Desa Suwidak, Imam Priyuda. Menurutnya, selain paket Hygiene kit, PMI juga mendistribusikan perlengkapan bayi, susu, dan vitamin untuk kelompok rentan Covid-19.

“Kami mengutamakan kelompok masyarakat rentan seperti bayi, balita, ibu hamil dan lansia untuk mendapatkan layanan maksimal sesuai dengan standarisasi pelayanan,” paparnya.

Selain itu, lanjutnya, kondisi pengungsi yang tentatif serta masih bergerak juga menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan untuk terus memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat korban dan terdampak. (alw/arh)