,

Kasus Balita Stunting di Batang Turun 16 Persen

by
Para pengurus PMI, Dinkes Batang, dan PKK Batang berfoto bersama para ibu dan balita

sorotnusantara.com , Batang – Stunting merupakan permasalahan kesehatan yang menghambat pertumbuhan anak sehingga tidak dapat memiliki tinggi badan yang normal. Namun demikian, hal ini tidak banyak diketahui oleh para orang tua yang memiliki balita sebab dari berat badan tampak normal.

Kepala Dinas Kesehatan, Hidayah Basbeth menjelaskan, stunting terjadi akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu yang lama. Oleh sebab itu, pihaknya sangat mengapresiasi berbagai pihak yang ikut peduli persoalan stunting.

“Tanggung jawab ini adalah milik semua pihak demi terbebasnya Batang dari stunting,” kata Basbeth disela kegiatan bakti sosial Palang Merah Indonesia Kabupaten Batang yang digelar di Balai Desa Kluwih, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (2/10/2019).

Lebih lanjut Basbeth mengungkapkan angka stunting di Batang menunjukan perkembangan yang positif. Merujuk hasil penimbangan serentak yang dilakukan pada bulan Agustus 2019 lalu, angka stunting menjadi 8,9 persen dari 59.000 balita di Batang.

“Angkanya turun signifikan, bandingkan dengan Agusutus tahun 2018 yang saat itu angka stunting mencapai 25 persen, artinya ada penurunan 16 persen. Kita terus menekan angka tersebut agar Batang bebas stunting. peran seperti PMI dengan PKK inilah yang kita butuhkan,”tegasnya.

Perlu diketahui, PMI Kabupaten Batang dalam Bakti Sosial Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kali ini menggandeng Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Batang. Dalam kegiatan tersebut ditemukan sebanyak 76 balita stunting di Desa Kluwih.

“Tentu ini merupakan salah satu peningkatan kinerja PMI. Dahulu PMI dikenal hanya ketika bencana alam saja, namun sekarang PMI ikut berkontribusi membangun daerah melalui kegiatan sosial kemanusiaan seperti ikut berkontribusi mengurangi stunting,” kata Ketua TP PKK Kabupaten Batang, Uni Kuslantasih.

Senada Basbeth, Uni juga menegaskan persoalan stunting merupakan tanggung jawab semua stakeholder, termasuk PKK dan PMI. Karena itu ia merasa terbantu dalam usahanya mengurangi stunting sampai ke tingkat desa, terutama peran kader PKK di tingkat Desa. Mereka ditekankan untuk membantu bidan desa dalam upaya mencegah stunting sedini mungkin.

“Stunting merupakan agenda pemerintah pusat dalam menyambut bonus demografi 2030. Ini menjadi suatu kewajiban bagi PKK Batang untuk ikut membantu program pemerintah tersebut, khususnya di wilayah Batang,” tandasnya.

Di lokasi tersebut, Uni bersama Ketua PMI Achmad Taufiq dan Kepala Dinas Kesehatan, Hidayah Basbeth beserta jajarannya berkesempatan memantau langsung pemeriksaan kesehatan balita, dan memberikan sosialisasi Stunting dan pencegahannya, serta memberikan PMT kepada para balita di Balai Desa Kluwih, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang.

Para pengurus PMI, Dinkes Batang, dan PKK Batang berfoto bersama para ibu dan balita

Prihatin
Sementara, Ketua PMI Batang Achmad Taufik mengungkapkan kegiatan PMI Peduli stunting ini berangkat dari keprihatinan PMI terhadap para bayi stunting di Kabupaten Batang, terutama di Desa Kluwih yang memiliki angka bayi stunting tertinggi di Batang.

Dikatakannya, hasil pemeriksaan menunjukkan 76 balita dari jumlah total 150 balita mengalami stunting, sehingga penting bagi PMI untuk melakukan intervensi berupa memberikan bantuan PMT kepada balita tersebut, “Kepedulian ini tidak hanya sampai di sini, Setelah kegiatan ini tetap akan ada tindak lanjut yang digerakkan oleh Dinas kesehatan,” terang Taufik.

Taufik menegaskan, pihaknya memiliki komitmen terus meningkatkan program sosial kemanusiaan, terutama untuk membantu kinerja Pemkab Batang, “Selain program pokok, PMI juga memiliki program sosial kemanusiaan yang telah kita galakan seperti bedah rumah tidak layak huni, bantuan korban kebakaran, bantuan stunting dan lainnya,” ringkasnya. (arh)