Kasubdit Instruktur Lembaga Pelatihan Swasta Harapkan BLKK Bisa Mandiri Dalam 2 Tahun

by

SOROTNUSANTARA.COM , SURAKARTA – Kasubdit Instruktur Lembaga Pelatihan Swasta Muhamad Amir Syarifudin berharap Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) sebagai sebuah program kementrian ketenaga kerjaan bisa mandiri dalam kurun waktu 2 tahun. Hal tersebut diungkapkan saat memberikan sambutan penutupan pendidikan dasar (Dikdas) Bahasa di aula BLK Surakarta, Jalan Bhayangkara, Laweyan, Kota Surakarta, Kamis (12/9/2019) sore.

Dalam kesempatan tersebut Amir menerangkan adanya pendampingan dalam proses awal menjalankan BLK Komunitas. Hal tersebut dia ibaratkan seperti proses kehidupan manusia pada umumnya melalui tahapan merangkak sebelum bisa berjalan. Setelah gedung rampung dibangun, maka BLK Komunitas akan menerima peralatan.

“Ada tahapan-tahapan dari Kementrian Ketahanan, dalam dua tahun terakhir ada pendampingan penyelenggaraan program di BLK Komunitas itu,” kata Amir.

Amir yang hadir mewakili Direktorat Bina Instruktur dan Tenaga Pelatihan (Dit. Bina Intala) melanjutkan, pendampingan yang dimaksud juga meliputi pendanaan dalam menyukseskan pelaksanaan program selama 2 tahun. Akan tetapi, dalam periode dua tahun selanjutnya dukungan dana sudah mulai dikurangi dan BLK Komunitas diharapkan sudah dapat berjalan secara mandiri.

Kasubdit Instruktur Lembaga Pelatihan Swasta Muhamad Amir Syarifudin saat memberikan sambutan penutupan Dikdas Bahasa di BLK Surakarta.

Amir juga berpesan, meski telah dinyatakan mendapat rekomendasi sebagai instruktur yang kompeten, namun kemampuan yang telah dikuasai dari pelatihan harus terus ditingkatkan. Baik dari sisi penyampaian maupun penguasaan teknik program. Kepada yang tidak mendapat rekomendasi, Amir memberikan nasihat bahwa hal ini bukanlah akhir segalanya.

Selain meningkatkan kemampuan, Amir juga berpesan untuk mempersiapkan kelembagaan BLK Komunitas dengan mendaftarkan BLK Komunitas secara online melalui website resmi Kementrian Ketahanan. Untuk lebih mempermudah promosi dan monitor, dia menyarankan agar para peserta untuk menandai lokasi BLK Komunitas dalam peta online “google maps”.

Kata Amir, pemasaran BLK Komunitas juga bisa dilakukan melalui branding online seperti pembuatan akun media sosial, baik twetter, facebook, maupun instagram. Menurut dia, melalui akun tersebut dapat memudahkan dalam memperhatikan perkembangan aktifitas BLK Komunitas yang sudah ada. “Jadi saya tidak harus nanya, dan semua orang bisa melihat. Itu bagian dari branding untuk memasarkan BLK Komunitas,” ucapnya.

Untuk melancarkan, Amir juga berpesan untuk segera merencanakan program pelatihan dan melakukan perekrutan calon peserta lebih dini. “Sudah ada form pendaftaran, sehingga begitu alat-alatnya sudah datang, tinggal panggil orang-orang itu,” ujarnya.

Menyoroti teknis pelaksanaan pelatihan pada umumnya, Amir juga mengingatkan adanya kebutuhan tenaga instruktur di BLK Komunitas. Menurutnya, BLK Komunitas dapat berjalan dengan baik jika memiliki tenaga instruktur yang lebih. Oleh sebab itu, upaya regenerasi dengan mencetak kebutuhan tenaga instruktur di BLKK juga harus dilakukan.

Sementara itu, Kasie Penyelenggaraan BLK Surakarta Azof Ghazali Sujono dalam laporannya menyampaikan, di antara 16 orang peserta yang mengikuti uji teknis terdapat 1 orang yang dinyatakan tidak mendapatkan rekomendasi kompeten, berbanding terbalik dengan hasil uji metodologi yang seluruhnya dinyatakan mendapat rekomendasi kompeten. (arh)