,

Juru Parkir Liar TPU Bergota Abaikan Binaan Pemerintah

by

SOROTNUSANTARA.COM , SEMARANG – Juru parkir liar di TPU Bergota Semarang mengabaikan pembinaan yang dilakukan pihak Pemerintah Kota Semarang maupun Polrestabes Semarang.

Pemkot Semarang sebenarnya telah berupaya mengantisipasi aksi pemalakan di TPU Bergota dengan berbagai upaya, termasuk dengan melibatkan Camat Semarang Selatan, Lurah Randusari dan Polsek Semarang Selatan untuk membina para pemuda yang tinggal di sekitar makam Bergota.

Keluhan masyarakat telah didengar dan diperhatikan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang sering hadir di acara Haul Kiai Sholeh Darat tiap tahun. Hendi, sapaan akrabnya, telah memerintahkan jajarannya untuk menangani masalah tersebut.

Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkot Semarang misalkan, pada Selasa (11/6/2019) lalu telah menggelar rapat di Balaikota untuk merespon persoalan parkir di Bergota. Rapat menghadirkan unsur Dinas Perhubungan, Satuan Polisi Pamong Praja, Polsek Semarang Selatan, Koramil Semarang Selatan, Camat Semarang Selatan, Lurah Randusari, serta panitia Haul Kiai Sholeh Darat.

Diterangkan oleh Kabag Kesra Pemkot Semarang Ari Djoko Santoso, pihaknya meminta agar Haul Kiai Sholeh Darat diurus dengan baik. Maksudnya, para peziarah dilayani dengan maksimal, diberi kenyamanan dengan dipasang tenda tratak, disuguhi makanan dan minuman saat Haul, serta dijaga kendaraannya oleh Satpol PP, Linmas dan dibantu pengawasan keamanan dari Polri dan TNI.

“Pemkot Semarang berkomitmen melayani dengan baik. Kita upayakan agar peziarah di makam Kiai Sholeh atau umumnya di Bergota merasa nyaman. Kami akan pasang tratak agar tidak kepanasan saat berdoa. Dan kami minta agar parkir ditata yang baik. Satpol PP akan dikerahkan,” paparnya dalam  rapat koordinasi (Rakor) tersebut.

Dalam Rakor juga dibahas, apabila ada penarikan uang jasa parkir dari peziarah, maka harus sesuai Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Retribusi Jasa Umum.

Dalam Perda tersebut tercantum, tarif parkir di jalan umum adalah Rp 2 ribu untuk kendaraan roda dua, Rp 4 ribu untuk kendaraan roda empat, dan Rp 25 ribu untuk bus besar. “Apabila ada penarikan uang parkir melebihi ketentuan Perda, berarti tindakan kriminal alias pemerasan,” simpulan hasil rapat.

Poster tarif parkir yang dipasang oleh panitia diduga dihilangkan oleh para pemalak.

Dari rapat tersebut direkomendasikan dua hal. Yaitu pertama, memberi pembinaan kepada para juru parkir, dan hal ini telah dilaksanakan berkali-kali.

Kamis (13/6/2019) pagi, pejabat Kecamatan Semarang Selatan bersama pejabat Kelurahan Randusari didampingi Bhabinkamtibmas kelurahan Randusari Aipda Metrizal memberi pembinaan dengan menyampaikan pesan Kamtibmas kepada para pemuda juru parkir parkir agar memungut jasa parkir sesuai tarif yang semestinya.

Rekomendasi kedua, memasang papan informasi tarif parkir. Tujuannya agar pengunjung mengetahui berapa rupiah yang patut dia bayarkan apabila diminta uang parkir.

Kamis (13/6/2019) siang sekira pukul 13.00 panitia menempel tujuh lembar poster berisi informasi tarif parkir sesuai Perda nomor 2 tahun 2012. Poster-poster tersebut dipasang di tempat-tempat yang mudah dilihat pengunjung makam.

Ironisnya, panitia justeru mendapat protes dari sekelompok pemuda yang menjadi penjaga parkir. Seorang pemuda berkaos doreng oranye berlogo organisasi Pemuda Pancasila memprotes panitia yang sedang menempel poster.

Yudi Prasetyawan, panitia Haul Kiai Sholeh Darat yang diprotes, memberi penjelasan kepada para pemuda tersebut bahwa penempelan itu adalah hasil rekomendasi rapat di Balaikota Semarang. Yudi bahkan memberi uang Rp 100 ribu ke pemuda tersebut sebagai bentuk penghargaan karena telah mau menerima penjelasan.

“Mas, tolong dimengerti. Papan informasi tarif parkir ini agar membawa nama baik Kota Semarang. Haul ini sudah difasilitasi Pemkot Semarang. Jangan sampai kejadian pemerasan parkir di Kelenteng Sam Poo Kong terulang. Yuk ikuti aturannya. Besok toh sampean akan dapat uang banyak. Wong pengunjung akan banyak sekali,” tutur Yudi seraya menyalami satu persatu pemuda tersebut.

Suasana saat itu masih damai dan tenteram. Semua tersenyum dan saling mengucap terima kasih usai mereka membagi rata uang dari Yudi. Maka panitia melanjutkan menempel poster info tarif parkir tersebut. Kemudian berlanjut memasang tratak dan sound system serta generator set.

Namun malam hari ketika panitia hendak melakukan cek akhir peralatan teknis, poster-poster tersebut hilang. Seluruh panitia kaget dan bertanya-tanya.

Rikza Chamami, salah satu panitia, mencoba mencari tahu apa penyebab hilangnya poster-poster tersebut. Dia juga sudah melaporkan kasus itu ke anggota Polsek Semarang Selatan yang ikut mengecek lokasi Haul di siang harinya.

“Kami semua kaget dengan hilangnya poster-poster berisi informasi tarif parkir yang telah dipasang. Kasus ini langsung saya laporkan ke Pak Riza, anggota Polsek Semarang Selatan. Ini jelas perlu diselidiki sebagai perbuatan kriminal,” ujarnya bernada geram.

Salah satu keturunan Kiai Sholeh Darat yang menjadi panitia Haul, Ustad Agus Taufiq, mengaku sangat kecewa dengan hilangnya poster informasi tarif parkir. Hal itu menurutnya sangat memalukan Pemerintah Kota Semarang. Sebab Pemkot Semarang telah mengurusi Haul Kiai Sholeh Darat, sudah mengoordinasi berbagai pihak secara maksimal. Akan  tetapi patut diduga dirusak oleh tangan-tangan kotor yang tidak rela persoalan parkir ditertibkan.

“Ini sungguh mengecewakan. Ini sungguh mempermalukan Pemkot Semarang. Karena diduga ada upaya menggagalkan penertiban parkir di Bergota,” ucapnya kepada para panitia yang malam tadi gladi bersih lokasi. (arh)