,

Jaga Syiah, Selamatkan Kebebasan Ekspresi Beragama di Indonesia

oleh
Ketua FKUB Jateng KH Taslim Syahlan saat memberikan sambutan (dok)

SOROTNUSANTARA.COM , Semarang – Bulan Muharam dimuliakan oleh Allah SWT. Pada bulan tersebut umat manusia diminta untuk memperindah dengan memperbanyak berzikir dan akhlak yang terpuji. Islam telah ditakdirkan menjadi puluhan aliran atau sekte. Syiah sebagai salah satu sekte dalam Islam juga berkembang tanpa menggangu entitas lain di Indonesia.

“Merayakan sebuah perayaan merupakan hak setiap individu dan oleh siapa saja tanpa terkecuali. Tanpa memandang status agama, aliran, hingga status sosial,” kata Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah, KH Taslim Syahlan saat menghadiri peringatan Asyura di pemukiman Syiah Petek, Semarang Utara, Kota Semarang, Sabtu (29/8/2020).

Menurut Taslim, kegiatan yang dilakukan oleh umat Islam Syiah tersebut harus diapresiasi oleh semua pihak, “Siapapun tidak boleh merepresi perayaan agama yang itu diperbolehkan untuk diekspresikan semua warga negara. Kita semua boleh mengekspresikan ekspresi keberagamaan masing-masing,” tuturnya.

Terkait peristiwa kelam yang terjadi pada putra Sayidina Al bin Abi Thalib, Taslim mengakui hal itu menjadi sejarah yang sangat memilukan dalam bagi umat Islam. Meski begitu, di melihat sisi lain yang dapat dipetik sebagai sebuah pelajaran dari sejarah kelam tersebut.

Dijelaskannya, umat manusia perlu berkaca kepada kuda kesayangan Nabi Muhammad SAW yang sangat mencintai Sayyidina Husen. Ketika Sayyidina Husen sudah tidak berdaya kuda itu tetap menunjukan kasih sayangnya, “Karena itu kami sowan dengan saudara-saudara semua, pada acara ini paling tidak untuk meneladani kuda Nabi Muhammad SAW yang notabene adalah binatang, tapi kasih sayangnya luar biasa kepada Sayyidina Husen,” tuturnya di hadapan 50 orang yang hadir pada kesempatan itu.

Maka dari itu, lanjutnya, kehadiran FKUB Jateng merupakan bentuk apresiasi kegiatan yang baik, kegiatan yang harus apresiasi semua orang. Selain itu, dia menilai kegiatan tersebut menjadi ekspresi kasih sayang kepada semua umat manusia, bukan hanya kepada umat islam.

Lebih dari itu, dia meminta umat Islam untuk bangkit dan menjadikannya sebagai sebuah diseminasi kemanusiaan dari umat Islam untuk semua manusia, “Pesan khusus dari saya, mari kita bersama-sama menjadi perekat dan jangan sampai menjadi penyekat diantara kita. Kita ini sejatinya saudara, dan mari bersama menguatkan ukhuwah kita baik ukhuwah islamiyah, ukhuwah insaniyah, maupun ukhuwah wathaniyah,” pesannya.

Hal senada dikatakan Sayyid Thoha Musawa. Menurutnya, peristiwa Karbala mengandung pelajaran bagi umat manusia agar tidak menginjak-injak hak orang lain dengan mengatasnamakan agama. Sebab, hal itu sangat jauh dari ajaran dan norma agama, “Siapapun yang berusaha memaksakan kehendaknya, menekan ekspresi keberagamaan manusia merdeka dan bertindak semena-mena bukanlah ajaran agama. Bahkan itu jauh dari pesan agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW yang mulia,” tuturnya.

Keberagaman merupakan sunnatullah yang tidak dapat dihindari. Karenanya setiap manusia tidak boleh mengintervensi dan memakasa manusia lain untuk mengikuti kehendak dirinya, “Masing-masing kita tidak boleh diintervensi dalam mengekspresikan ekspresi keagamaan,” pungkasnya.

Hadir dalam kesempatan itu, Sayyid M. Ridho Assegaf membacakan Maqtal yang diikuti jamaah dengan khidmat, dilanjutkan dengan pembacaan Syair yang dipimpin Sayyid Alwi Assegaf, selanjutnya doa dan ziarah dipimpin oleh Sayyid Luthfi Al-Idrus dan diakhiri dengan makan bersama.

Turut hadir bersama Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) Semarang, Humanity First Indonesia, Perguruan Trijaya, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Semarang, Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, Lembaga Pers Mahasiswa Justisia. (arh)