Jaga Komitmen Kebangsaan, Aktifis Senior Siap Deklarasikan Abita

oleh
Dr Drs Budiyanto SH MHum dalam sebuah seminar

SOROTNUSANTARA.COM , Semarang – Perkembangan politik dewasa ini membuat gaduh di masyarakat, terlebih dengan maraknya pelibatan pelajar dalam aksi-aksi bersifat politik.

Hal inilah yang membuat tekad aktifis senior Jawa Tengah Dr Drs Budiyanto SH MHum bersiap mendeklarasikan Aku Bangga Indonesia Tanah Airku (ABITA).

“Yayasan Abita ini merupakan bentuk kepedulian kita terhadap bangsa ini. Kita merasa prihatin atas persoalan politik dewasa ini. Semestinya politik kebangsaan ini lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi maupun kelompok,” kata Budiyanto di Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (26/10/2020).

Indonesia adalah negara besar dengan cita-cita yang luhur, menurutnya. Karena itu sejak tahun 1908 telah bercita-cita menjadi bangsa yang bersatu, merdeka, dan maju.

“Kesadaran para pemuda ditekadkan pada 28 Oktober 1928 dengan mengikatkan diri dalam panji semangat Sumpah Pemuda yang berbangsa satu, tanah air satu dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia,” ujarnya.

Bermula dari persatuan pemuda, sambungnya, memantabkan langkah perjuangan bangsa dengan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

“Ini merupakan sebuah spirit dan kesadaran luhur berbangsa yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa,” tandasnya.

Oleh karena itu tokoh yang populer di kalangan aktifis kepemudaan ini bertekad mendeklarasikan sebuah yayasan yang didedikasikan untuk menggarap semangat nasionalisme di kalangan pelajar.

“Abita bukan gerakan politik praktis dan pragmatis. Abita menegaskan politik kebangsaan harua digarap sedini mungkin,” tegasnya.

Mantan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jateng menjelaskan, Abita yang ia dirikan bersam Drs Tijan MSi, Nanik Pujowati MPd, dan Dr Hari Wuljanto MSi akan dideklarasikan oleh para pendiri dan pengurus besok (27/10/2020) di Hotel Candi Indah. Selanjutnya, Abita berjalan sebagai institusi sosial yang akan melaksanakan berbagai program dan kegiatan penguatan nasionalisme dan karakter bangsa Indonesia yang bersifat mandiri. Upaya tersebut diarahkan untuk membangun kebanggaan dan kecintaan terhadap bangsa dan negara Indonesia. Dengan begitu, isu politik yang berkembang tidak akan memberikan dampak pada pelajar.

“Masyarakat harus terlibat dan berperan aktif mendidik anaknya untuk bangga dan cinta terhadap tanah air dan bangsanya, apapun agama yang dianutnya,” tuturnya.

Agama dan nasionalisme bisa berjalan bersama. Hal ini sudah ditunjukkan oleh para tokoh yang terlibat dalam mendirikan negara ini.

“Pancasila dirumuskan oleh tokoh yang mewakili nasionalisme dan religius. Kiai Hasyim Asy’ari juga mendukung negara untuk tetap merdeka di atas kebinekaan. Resolusi Jihad yang sekarang diperingati sebagai Hari Santri itu fakta nasionalisme dan patriotisme ulama Indonesia,” pungkasnya. (arh)