,

Ini Laporan Kebencanaan PMI Kota Semarang di DAS Bringin dan Plumbon

oleh
Relawan PMI Kota Semarang saat melakukan evakuasi warga (sorotnusantara.com/pj)

SOROTNUSANTARA.COM , Semarang – Hujan lebat dengan intensitas yang tinggi disertai angin terjadi di Kota Semarang, Jawa Tengah. Hal ini mengakibatkan 10 dari 16 kecamatan terendam air. Air memenuhi pemukiman warga dan memutus akses jalan raya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang untuk daerah Kecamatan Ngaliyan, banjir juga diakibatkan oleh meluapnya Daerah Aliran Sungai (DAS) Plumbon dan DAS Bringin yang ada di Kecamatan Ngaliyan.

“Kemarin Sabtu sekitar jam tiga dini hari ketinggian antara 80 – 200 cm dari luapan DAS Plumbon sehingga mengakibatkan banjir di wilayah RW 2 Kelurahan Wonosari Ngaliyan,” kata Kepala Sub Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kota Semarang, Sri Djatmiko kepada Sorot Nusantara, Selasa (9/2/2021).

Perahu karet, triton, ambulans dan berbagai perlengkapan evakuasi telah dimaksimalkan untuk mendukung kinerja relawan PMI bersama relawan dari berbagai elemen kemasyarakatan. Hasilnya, relawan Siaga Bencana Bernasis Masyarakat (Sibat) PMI bisa mendirikan dapur umum. “Saat ini kondisi air sudah mulai surut namun ada beberapa titik yang masih tergenang dikarenakan lokasi berada di daerah cekungan,” katanya

Relawan PMI Kota Semarang saat melakukan evakuasi banjir Semarang (sorotnusantara.com/pj)

Tercatat dalam laporan posko PMI, banjir menerjang 1450 jiwa di RW 02 Kelurahan Wonosari Kecamatan Ngaliyan dan mengakibatkan satu orang meninggal dunia. “Dari 12 RT, ada 345 KK dengan 1450 Jiwa, dan 1 orang yang meninggal dunia ketika dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Sekopek, Kaliwungu, dan 1 orang dirawat di RS Hermina,” ungkapnya.

Meski demikian, terdapat daerah yang dinilai tidak mengkhawatirkan, yakni di Kelurahan Mangkang Kulon Kecamatan Tugu. “Untuk wilayah RW 1, 2, 3, 4 dan 5 hanya limpasan saja, kondisi belum menghawatirkan,” ujarnya.

Sedangkan kondisi di DAS Bringin, luapan air menerobos pemukiman warga RT 7 RW 7, Kelurahan Wonosari dengan ketinggian air kisaran 80 cm dan titik terdalam 150 cm. Saat ini, terdapat warga yang mengungsi di rumah tetangga yang tidak terdampak banjir. Untuk memantau perkembangan, PMI juga masih menempatkan relawan untuk di titik tertentu.

“Setelah asesmen dan evakuasi, selanjutnya kami monitor dan terus berkoordinasi dengan BPBD dan Pemerintah Kota Semarang,” tegasnya.

Terkait data dan pelaporan yang ada, Djatmiko menegaskan, PMI memiliki relawan yang telah dilatih dan dididik dari tingkat dasar sampai spesialisasi. “Kaderisasi relawan PMI sudah terstruktur rapi, termasuk yang khusus bertugas dalam melakukan asesmen, jika ada perubahan atau perkembangan akan kita laporkan lagi,” tandasnya.

Kepala Markas PMI Semarang, Mugiyanto menambahkan, pihaknya mengapreasiasi peran serta elemen masyarakat yang turut berjibaku menghadapi musibah tersebut. Juga, para relawan senior yang berpengalaman di berbagai kegiatan bencana nasional, baik dalam bencana banjir kali ini maupun dalam memberikan pembinaan terhadap relawan yang lebih junior.

“Kami tentunya sangat mengapresiasi kinerja para relawan KSR (Korp Sukarela), maupun TSR (Tenaga Sukarela) yang terus nyengkuyung dalam banyak kegiatan PMI,” tuturnya.

Ia juga berharap, curah hujan berkurang sehingga masyarakat bisa segera membersihkan lingkungan dan kembali beraktifitas seperti sedia kala. “Kita doakan bersama, mudah-mudah intensitas hujan berkurang dan semua aktifitas kembali seperti semula,” pungkasnya. (pj/arh)