Hadir di Jateng, RPA Diharap Jadi Solusi Kasus Perempuan dan Anak

oleh
Foto: istimewa. Ketua RPA Jateng Evi Nurmilasari

SOROTNUSANTARA.COM , Semarang – Rumah Perempuan dan Anak (RPA) kini telah hadir di Provinsi Jawa Tengah. Pelantikan pengurus RPA Jawa Tengah dilakukan secara langsung Ketua RPA Pusat Ai Rahmayanti di hotel UTC, Jalan Kelud Raya, Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah, baru-baru ini.

Hadirnya RPA di Jawa Tengah diharapkan menjadi solusi tingginya kasus perempuan dan anak. “RPA diharapkan bisa menjadi kontributor yang baik dalam upaya membangun perempuan Indonesia,” kata Ai.

Sementara, Ketua RPA Jateng Evi Nurmilasari mengungkapkan, masih banyaknya tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak. “Perempuan dan anak adalah kelompok khusus yang harus dilindungi. Kekerasan terhadap dua kelompok ini masih tinggi. Untuk itu keberadaan RPA harus ada di seluruh Indonesia, termasuk Jawa Tengah untuk menegakkan keadilan terhadap hak-hak anak perempuan dan anak,” kata evi.

Oleh karena itu Evi berharap keberadaan RPA di seluruh Indonesia, khususnya di Jawa Tengah dapat memberikan advokasi terhadap persoalan perempuan dan anak. Selain itu, ia juga berharap tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk melawan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Dalam kesempatan itu, Evi menyatakan komitmen setelah dilantik pihaknya akan melakukan langkah cepat dalam merespons berbagai persoalan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Jawa Tengah dengan jumlah penduduk lebih kurang 34,5 juta, perlu mendapatkan perhatian, karena faktanya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak masih tinggi,” tegasnya.

“Masih banyak masyarakat yang tidak tahu kemana harus mengadu ketika mendapatkan kekerasan, sehingga banyak kasus terjadi yang tidak tertangani karena korban diam, untuk itu mari bersuara terlebih ketika mendapat perlakuan yang tidak adil,” kata Evi menambahkan.

Foto: istimewa.
Ketua RPA Jateng Evi Nurmilasari

Selain melantik RPA Jawa Tengah, juga dilakukan pelantikan 15 kabupaten/kota yaitu Kota Semarang, Demak, Pati, Jepara, Sukoharjo, Boyolali, Kudus, Tegal, Klaten, Wonosobo, Purwokerto, Blora, Magelang, Karanganyar dan Kebumen.

Ketua RPA Kota Semarang Dwi Supratiwi menambahkan, berbagai persoalan perempuan dan anak banyak yang membutuhkan pendampingan ekstra dan lintas sektor. “Kasus yang terjadi tidak melulu di internal rumah tangga, seperti yang disampaikan Mbak Evi tadi,” kata yang dianugerahi penghargaan dari Anne Avantie atas kepeduliannya terhadap PGOT saat menerima Sorot Nusantara, Senin (12/4/2021).

Koordinator Tim Penjangkauan Dinsos (TPD) Kota Semarang yang banyak menjangkau kasus PGOT ini melanjutkan, selain kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ada di internet, juga ada kasus di jalanan.

“Saya sering mendapati kasus di jalanan seperti anak jalanan hamil tidak jelas siapa ayah dari anak yang dikandungnya, atau anak telantar. Nah, dengan adanya RPA di Jateng dan Semarang ini mudah-mudahan bisa dikolaborasikan, bersinergi secara lintas sektor dalam menuntaskan persoalan kekerasan perempuan dan anak di Kota Semarang,” pungkasnya. (rif)