Galang Ungkap Pengalaman Spritualnya di Pesantren Lewat Lukisan

by
Pengasuh PP Durrotu Aswaja dan Dosen Pembimbing saat mengelilingi pameran lukisan Galang. (istimewa)

SOROTNUSANTARA.COM , SEMARANG – Pengalaman rohani atau spiritual terkadang lebih mudah ditunjukkan dengan sebuah karya, baik itu tindakan atau sebuah karya yang bernilai seni. Hal ini menjadi sebuah pencarian tersendiri bagi M. Galang Irnanda.

Untuk menggapai hal tersebut ia rela harus menjadi mahasiswa kawakan di Universitas Negeri Semarang, Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Seni Rupa, Prodi Seni Rupa, yakni semester 14. Puwanto selaku dosen pembimbingnya menilai dirinya berhasil mengukapkan hasil perenungannya selama nyantri di Pondok Pesantren Durrotu Aswaja, Sekaran, Gunungpati, Kota Semarang dalam bentuk lukisan.

Guratan-guratan, perpaduan warna, dan berbagai hal yang dihasilkannya mampu menunjukkan letupan-letupan pengalaman batinnya sebagai santri dalam pameran lukisan yang digelar selama tiga hari ini di Gedung B9, FBS Unnes, Sekaran, Gunungpati, Kota Semarang. Rabu (17/7/2019) sore ini, pameran lukisannya secara resmi ditutup.

Pengasuh PP Durrotu Aswaja dan Dosen Pembimbing saat mengelilingi pameran lukisan Galang. (istimewa)

Purwanto mengakui bahwa Galang telah menemukan tempatnya, menemukan maqamnya yang pas. Yakni di Pondok Pesantren Durrotu Aswaja. “Bagaimana dia melakukan suatu perenungan yang luar biasa mencari jati dirinya, mencari satu pertanyaan apa yang harus dia lakukan,” katanya.

Purwanto menerangkan yang dilakukan Galang sebagai tanggung jawab bentuk kepatuhannya dengan Sang Khaliq dinyatakan melalui karya-karya lukisnya. Menurutnya, kita bisa menyaksikan kedekatan perasaan Galang dengan Allah yang menginspirasi dan layak untuk mengangkat judul “Dzikir dan Fikir”.

“Apa yang dilakukan oleh Galang adalah suatu proses bagaimana dia berfikir merenungi dirinya merenungi hakikat pribadi dirinya dan hubungannya dengan Tuhan. Tidak ada cara lain agar kedekatan itu senantiasa terjalin adalah dengan cara berfikir,” ulasnya.

Dia juga menuturkan pribadi Galang yang luar biasa. “Galang telah mengorbankan waktunya untuk melakukan fikir dan dzikir dan alhamdulillah saya melihat galang menjadi pribadi seorang mahasiswa yang memiliki energi yang luar biasa,” tuturnya, “Dia tidak semata-mata menghasilkan karya formal sebagaimana yang kita persepsikan bagaimana kita melihat seni lukis saja. Tidak, tetapi dengan kreativitas yang begitu liar ada pada pribadi Galang. Pada dasarnya saya bangga dia memiliki energi besar,”imbuhnya

Menurutnya, kuas sebagai media bagi Galang dalam menunjukkan perasaan dekatnya dengan Allah. Karenanya ia berharap doa yang diutarakan dapat tekabulkan. “Mudah-mudahan doa kita semua, ketika ada hamba Allah yang begitu dekat dengan Sang Khaliq maka yakinlah bahwa apa yang diminta, apa yang didoakan insyaa Allah akan diijabah,” harapnya.

Jadi, lanjutnya, inilah barang kali suatu rumus yang gampang untuk kita fahami. Ketika kita mau meminta sesuatu, berdoa sesuatu kepada Sang Khaliq, maka jadilah engkau jadi hamba Allah yang dicintainya. Siapa yang dicintainya? Ya yang paling dekat. “Mudah mudahan apa yang dilakukan Galang ini adalah sesuatu yang senantiasa pada koridor dan diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala,” doanya.

Atas karya yang dipamerkan tersebut, Purwanto merasa kegelisahannya terhadap nasib akademik Galang telah terobati. Galang lebih memilih menunda masa wisudanya demi sebuah proses penemuan jati dirinya.

Sementara, Galang saat dimintai keterangan menjelaskan tema besar dalam pameran lukisan tersebut sebagai sebuah gambaran kongkrit tentang proses belajar memahami agama yang ada di pesantren. Secara simbolik, Galang melukiskan bagaimana mengaji Alquran, kajian kitab, dan ibadah harian divisualkan secara artistik dalam karya lukis, bahkan tradisi gotong royong yang dalam istilahnya disebut Roàn juga terlukiskan dengan detail.

Lebih dari itu, simbol tersebut diusung dalam bentuk seni instalasi. Sedikitnya terdapat 5 instalasi berupa gentong padasan tempat wudhu, sarung, sajadah, kitab, peralatan pertukangan. “Instalasi itu sejenis seni tiga dimensi, seperti patung tapi bukan patung,” ujarnya.

Galang menjelaskan, roàn sebagai simbol dari kebersamaan antara kiai dengan santri, dan santri dengan santri. Kebersamaan tersebut menghasilkan tekad untuk membangun pondasi keislaman yang dilestarikan dalam bentuk bangunan pesantren.

Lukisan yang menggambarkan perjuangan almarhum Kiai Masrokhan mendirikan Pondok Pesantren Durrotu Aswaja yang ditindih tulisan arab pegon menunjukkan sebuah kearifan lokal, yakni semangat keislaman yang membaur dengan Budaya Jawa. Sebuah inspirasi dalam memberikan pesan moral berdakwah melalui lukisan. (arh)