,

FKUB Jateng, Menyemai Kedewasaan Beragama Sejak Dini

oleh
Ketua FKUB jateng saat memberikan ceramah keagamaan di PP Roudlotus Sholihin Demak. (dok)

SorotNusantara.com , Semarang – Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah terus melaksanakan silaturahmi ke kuil, gereja, dan bahkan pondok pesantren. Terbaru, FKUB Jateng dibawah pimpinan KH Taslim Sahlan berkunjung ke PP Roudlotus Sholihin di Desa Loireng Kecamatan Sayung Kabupaten Demak.

“Alhamdulillah hari Kamis 16 Juli 2020 lalu saya berkesempatan silaturrahmi ke pondok pesantren Roudlotus Sholihin Demak. Ini berkat budi baik kolega saya Mas Wawan koordinator PELITA, Maulana Syaefullah Ahmad Mubarok (tokoh Muslim Ahmadiyah Jawa Tengah) dan Mas Haji Anton, bosnya Humanity Fisrt Indonesia Jawa Tengah,” kata Taslim saat ditemui disela aktifitasnya di Universitas Wahid Hasyim Semarang, Sabtu (18/7/2020).

Pesantren ini, lanjutnya, sangat keren. Sebab, meski diasuh alumni Al- Azhar Kairo, namun para santri sejak dini sudah dikenalkan dengan keberagaman, toleransi, kerukunan umat beragama dan kedewasaan beragama, “Pengasuhnya, Gus Qadir mendesain pembelajaran santri dengan “religiusitas yang tinggi sehingga memiliki kedewasaan dalam beragama,” tuturnya.

Taslim pun lantas mengenalkan hal ihwal FKUB dan pentingnya merawat kerukunan umat beragama sejak dini bagi santri. Tujuannya, memberikan pemahaman pada para santri yang sudah dibiasakan mengenali kemajemukan, baik kemajemukan internal umat Islam, maupun realitas kemajukan di luar Islam.

“Dalam Islam ada banyak aliran dan organisasi keagamaan. Ada NU, Muhammadiyah, LDII, MTA, Ahmadiyah, Syi’ah, dan sebagainya,” ujarnya.

Ketua FKUB jateng saat memberikan ceramah keagamaan di PP Roudlotus Sholihin Demak. (dok)

Lebih lanjut Dosen Fakultas Agama Islam Unwahas menuturkan, para santri juga sudah dibiasakan untuk mengenali agama-agama lain. Seperti agama Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghuchu. Bahkan juga dikenalkan komunitas dari luar agama seperti Penghayat Kepercayaan.

Menurut Taslim, KH. Abdul Qodir selaku pengasuh memiliki impian besar agar para santrinya kelak menjadi sosok santri yang moderat, lapang dada, toleran, dewasa dalam beragama dan menyadari realitas keberagaman.

Secara periodik para santri diajak berkunjung ke gereja, pura, klenteng dan sebagainya. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman langsung kepada para santri agar menyadari realitas perbedaan agama.

Dari pengalaman yang ia dapatkan selama berkunjung di PP Roudlotus Sholihin Taslim berharap, yang dilakukan Gus Qodir memberikan berkah bagi bangsa yang majemuk seperti Indonesia.

“Semoga kedepan terus lahir orang-orang yang dadanya semakin lapang. Karena menurut saya kedewasaan beragama itu tidak selalu berbanding lurus dengan tingginya derajat akademik seseorang. Tapi bagaimana beragama dengan lapang dada itu yang penting. Santri-santri Gus Qodir ini disiapkan menjadi orang-orang yang taat beragama dengan lapang dada,” tutupnya. (arh)