,

Cegah Hoax, KPU Semarang Tekankan Pemuda Pahami Isu Pemilih

by
Ketua KPU Kota Semarang, Henri Chasandra Gultom saat memaparkan materi dalam dialog interaktif Dispora-KNPI Kota Semarang. (ft.arh)

SorotNusantara.com , Semarang – Adanya pemilih dari luar daerah diperkirakan sebagai isu dan hoax yang muncul muncul dalam pemilihan umum (Pemilu) Presiden, DPD, DPR dan DPRD yang akan digelar secara serentak pada 17 April mendatang. Menangkal adanya kemungkinan tersebut, KPU Kota Semarang, Henri Casandra Gultom mengingatkan hal tersebut merupakan hal yang biasa dan telah melalui mekanisme yang berlaku.

“Di Kota Semarang ada sekitar 17.000 warga memutuskan untuk pindah pemilih di Kota Semarang, dan sekitar 5000 warga Kota Semarang memilih untuk pindah dari Kota Semarang,” ungkapnya, Kamis (21/3/2019) di hadapan peserta dialog interaktif Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kota Semarang bersama DPD KNPI Kota Semarang.

Mencegah dari hal-hal yang tak diinginkan tersebut, Henri memberikan pemahaman persoalan pindah daftar pemilih terpadu (DPT) yakni tidak adanya kewenangan bagi KPU untuk menambah tempat pemungutan suara (TPS) bagi pemilih yang pindah Dapil sehingga pemilih tersebut dibagi ke beberapa TPS yang ada di sekitar Perguruan Tinggi tersebut. Dicontohkan para mahasiswa yang berasal dari luar daerah dan bahkan luar pulau.

“Kalau ada kabar orang yang menurut warga panjenengan bukan warga setempat tapi nyoblos di tempat panjenengan. Karena kami tidak diberikan kewenangan untuk menambah TPS,” ujarnya.

Sementara, Ketua DPD KNPI Jawa Tengah, Tino Indra Wardono mengemukakan, generasi muda harus berpikir jernih di era milenial ini, terlebih dengan peluangnya untuk turut berpolitik secara sehat. “Generasi muda harus berpikir rasional. Pemuda sebagai motor penggerak, memiliki kesempatan dan keleluasaan dalam jejaring harus berpikir rasional. Karena itu pemuda tentu harus bisa memberikan arahan pada masyarakat untuk tidak apatis terhadap politik,” terangnya, “Peluang di masa depan semakin terbuka,” imbuhnya.

Menanggapi persoalan money politics yang lazimnya digencarkan saat fajar menyingsing, Tino menegaskan agar pemuda harus memulai dari diri sendiri dan mengajak lingkungannya untuk merubah paradigma tersebut.

“Kita tahu ‘serangan fajar’ itu salah, karena itu kita harus bisa merubah paradigma itu,” tegasnya.

Tino menilai, perkembangan zaman menunjukkan era yang tepat bagi pemuda untuk merubah kebiasaan buruk dalam politik. Sebab, menurutnya, perkembangan digital dan reformasi 4.0 merupakan era baru dan eranya pemuda. “Saat ini momentum bagi pemuda, organisatoris untuk maju (berpolitik) tanpa mengeluarkan uang,” lugasnya.

Dialog bertajuk mewujudkan Pemilu yang kondusif dan bermartabat bagi generasi muda Kota Semarang yang digelar di Krishna room Hotel siliwangi, Jalan MGR Soegijopranoto, Kota Semarang, juga menghadirkan Sekretaris DPRD Kota Semarang, Rukiyanto. Dalam kesempatan tersebut ia memberikan apresiasi Dispora yang telah menggandeng KNPI.

“Kami mengapresiasi Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kota Semarang yang menggandeng DPD KNPI Kota Semarang dalam mengadakan kegiatan ini bersama Ormas-ormas kepemudaan, menyatukan pemikiran untuk menciptakan suasana kondusif di Kota Semarang menjelang Pemilu 17 April nanti,” kata Rukiyanto saat diwawancarai awak media.

Menurut Rukiyanto, deklarasi yang dilaksanakan DPD KNPI Kota Semarang bersama perwakilan beberapa organisasi kepemudaan merupakan sebuah kesepakatan bersama untuk menjaga Pemilu dari hoax dan ujaran kebencian, dan menciptakan Pemilu yang bermartabat.

“Tadi kami juga menyaksikan deklarasi, deklarasi ini bukan sekedar deklarasi tapi karena ini adalah kebersamaan, deklarasi ini harus kita implementasikan ke masyarakat,” pungkasnya. (arh)