,

BLK Komunitas, Terobosan Kemenaker Tingkatkan Peran Pesantren

by
Foto bersama : Para peserta Dikdas Bahasa melakukan foto bersama seusai mengikuti persiapan uji kompetensi.

SOROTNUSANTARA.COM , SURAKARTA – Kementrian Ketenagakerjaan RI dalam meningkatkan peran pondok pesantren memiliki program Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK). Sebuah program yang mengakomodir komunitas santri dalam bursa tenaga kerja profesional. Pada realisasinya, pondok pesantren yang telah diverifikasi dapat menerima bantuan gedung dan peralatan serta bahan dari Kemenaker.

Menariknya, sumber daya manusia dari pesantren mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar (Dikdas) intruktur. Seperti yang diikuti 16 santri asal pondok pesantren asal Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur yang mengikuti Dikdas Bahasa. Selama 47 hari mereka mendapatkan pelatihan untuk menjadi instruktur bahasa Inggris.

Menurut salah satu intruktur, Dillyana Krismianingrum, BLKK merupakan sebuah terobosan baru yang menarik dalam dunia pelatihan. “BLK Komunitas itu salah satu inovasi baru dalam pelatihan. Dan saya kira itu bagus untuk mengembangkan pesantren,” kata Dilliyana seusai memaparkan materi di BLK Surakarta, Jalan Bhayangkara No.38, Panularan, Kecamatan Laweyan Surakarta, Senin (9/9/2019) sore.

Instruktur yang akrab disapa Mrs Dillyana ini melanjutkan, BLK Komunitas pesantren akan mampu meningkatkan peran pesantren dalam memperluas lapangan pekerjaan. Selain itu, dapat membantu para santri maupun masyarakat sekitar yang dirasa kurang atau tidak dapat menikmati pendidikan formal yang tinggi.

Foto bersama : Para peserta Dikdas Bahasa melakukan foto bersama seusai mengikuti persiapan uji kompetensi.

Saat dimintai keterangan lanjutan, instruktur yang mengajarkan Telephoning ini mengungkapkan kendala yang dialami dalam mengajar para santri. “Karena latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, jadi tidak bisa disama-ratakan metode mengajarnya,” ucapnya.

Oleh sebab itu, dalam mendidik para santri ia mengaku membutuhkan kecermatan tersendiri. “Jadi butuh pengayaan yang ektra bagi yang mampu dan memberikan pembinaan bagi yang kurang mampu mengikuti pelajaran,” bebernya.

Perlu diketahui, 16 BLK Komunitas pesantren Jawa Tengah yang terfokus pada Bahasa Inggris di antaranya; PP Darussalam Kembaran, Kabupaten Banyumas, PP Fathul Huda Desa Sidorejo Sayung, Kabupaten Demak, PP Hidayatul Mubtadiien Kalibening, Kota Salatiga, PP AI-Muttaqien Pancasila Sakti Karanganom, Kabupaten Klaten, PP Al l’anah Kabupaten Blora, PP Al Hikmah Kabupaten Blora, PP Darur Ridwan Al Fadholi, Desa Ngablak, Kabupaten Pati, PP Nahdlatut Thalibin Kabupaten Pati, PP Sabilunnajah Desa Penjalin, Kabupaten Kendal, dan PP Zahrotul Jannah Kabupaten Kulonprogo dari DIY.

Achmad Darojat Jumadil Kubro, peserta asal Kota Salatiga mengungkapkan perasaannya terhadap tugas yang bakal diemban. “Merasa berat karena biasanya santri itu mengaji, sekarang ada tugas tambahan,” kata Achmad.

Akan tetapi melihat hasil yang kira-kira dapat dicapai, lanjutnya, maka BLKK layak dilakukan. Menurutnya, program ini sangat tepat, sebab orang yang dapat mendampingi komunitas pada umumnya dari dari komunitas itu sendiri. “Jadi, BLKK sangat layak untuk diperjuangkan,” tandasnya.

Selanjutnya, pesantren dari Jawa Timur terdapat PP Falahul Muhibbin, Desa Watugaluh, Kabupaten Jombang, PP Manbaul Huda Desa Banjararum, Kabupaten Tuban, PP At Tanwir Desa Talun, Kabupaten Bojonegoro, PP Cemerlang An Najach Kabupaten Jombang, PP Al Maali Dukuh Slembi, Kabupaten Bojonegoro, PP Hidayatulloh Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek. (arh)