,

BISA Kementrian Pariwisata Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Masa New Normal

oleh
Launching gerakan BISA di MAJT. (dok)

SorotNusantara.com , Semarang – Perekonomian masyarakat yang memburuk akibat pandemi Covid-19 harus terus didorong agar pulih seperti semula. Memasuki era kenormalan baru, Pemerintah Kota Semarang telah membuka tempat wisata yang ada. Beberapa objek wisata juga telah mulai berbenah mengikuti aturan protokol kesehatan, salah satunya wisata religi Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Untuk mendorong potensi ekonomi yang ada, Pelaksana Pengelola (PP) MAJT telah melakukan berbagai persiapan. Salah satunya dengan memanfaatkan program pemerintah, seperti gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman) yang dicetuskan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Menurut Sekretaris PP MAJT, Drs. KH. Muhyiddin, M.Ag, program tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya yang mengandalkan ekonomi kreatif dan pariwisata seperti warga Semarang.

“Intinya kami, MAJT, bersyukur ada perhatian dari pemerintah dan berterimakasih atas dipilihnya MAJT sebagai lokasi gerakan BISA,” ucapnya saat ditemui di ruang transit MAJT, Jalan Gajah Raya, Gayamsari, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (26/7/2020)

Era kenormalan baru di Semarang telah berjalan seiring dengan ketentuan Pemkot Semarang yakni tentang pembatasan kegiatan masyarakat (PKM). Karena itu ia berharap, wabah yang berdampak pada berbagai sendi kehidupan masyarakat segera hilang dan masyarakat bebas beraktifitas tanpa bayang-bayang ancaman virus yang banyak disebut berasal hewan spesies kelelawar.

Launching gerakan BISA di MAJT. (dok)

“Kita tetap memohon kepada Allah SWT agar segera mengangkat bencana Covid-19 ini dan semoga masyarakat dapat menjalankan kehidupan yang penuh berkah dalam menyongsong kenormalan baru ini,” tuturnya.

Terkait gerakan Bisa, Plt. Direktur Akses Pembiayaan, Hanifah Makarim saat meresmikan di MAJT menjelaskan, gerakan yang digagas Kemenparekraf tersebut dilaksanakan di empat lokasi yang ada di Kota Semarang. Salah satunya, MAJT sebagai ikon warga wisata religi Jawa Tengah.

Menurut Hanifah, progam tersebut bertujuan untuk memberdayakan pelaku pariwisata di Kota Semarang yang terdampak pandemi Covid-19, “Gerakan yang dimotori oleh Kemenparekraf ini bertujuan untuk melakukan pemberdayaan pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di kota Semarang yang terdampak pandemi Covid-19,” katanya.

Dengan demikian, lanjutnya, gerakan Bisa diharapkan dapat membantu meningkatkan daya tarik wisata (DTW), khususnya Masjid Agung Jawa Tengah dalam mendorong industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Karena itu penting untuk menyiapkan dan menata tempat wisata agar lebih siap dalam kenormalan baru pasca Covid-19.

Mewakili Wali Kota Semarang yang berhalangan hadir, Setda Kota Semarang, H. Ir. Izwar Aminudin, MT selaku Setda Kota Semarang menyampaikan terima kasih atas perhatian pemerintah pusat. Sebab, menurutnya, kota Semarang sebagai kota perdagangan dan jasa sangat mengandalkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk mendongkrak perekonomian masyarakat.

Izwar mengaku mendukung program tersebut lantaran wabah Covid-19 juga berdampak pada industri pariwisata di Kota Semarang, “Selama beberapa bulan ini pariwisata di kota Semarang terpuruk dan berdampak juga kepada para pelaku pariwisata, dan ekonomi kreatif. Pemerintah Kota Semarang sangat mendukung program dari Kemenparekraf yang tidak hanya memberikan manfaat bagi para pelaku pariwisata tapi juga DTW di kota Semarang, khususnya Masjid Agung Jawa Tengah,” tuturnya.

Turut hadir dalam launching Bisa, anggota komisi X DPR RI, A.S. Sukawijaya atau yang lebih dikenal Yoyok Sukawi. Dalam kesempatan itu, ia ikut mendorong para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif agar tetap bersemangat dan selalu kreatif dalam menghadapi cobaan wabah ini. Menurutnya, gerakan BISA dapat membantu meringankan beban para pelaku pariwisata, khususnya di Semarang.

“Gerakan BISA ini diharapkan dapat membuat geliat baru bagi dunia pariwisata untuk kembali bergerak dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan tidak menjadikan DTW menjadi klaster baru penyebaran Covid-19,” ujarnya. (arh)