Berbekal Ilmu Jurnalistik, Santri Didorong Kuasai Media

by
Agus Fathuddin Yusuf saat memaparkan materi jurnalistik bagi santri

SOROTNUSANTARA.COM , SEMARANG – Radikalisme yang marak di media sosial disebut menjadi tantangan tersendiri bagi santri untuk turut berdakwah melalui media sosial yang selama ini menjadi panggung kaum intoleran-radikal. Santri harus bangkit memberikan kontra narasi kampanye brutal gerakan kaum radikal.

Untuk mencapai tujuan itu kaum santri harus menambah bekal, diantaranya dengan ilmu jurnalistik, yang semakin dibutuhkan di era milenial. Hal demikian disampaikan Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang Agus Fathudin Yusuf ketika memberi pelatihan jurnalitsik untuk para santri se-Kota Semarang.

Diklat Jurnalistik Milenial merupakan program kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Kota Semarang bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Kota Semarang di Gedung PCNU Kota Semarang, Minggu, (22/9/2019).

Agus merupakan salah satu wartawan senior NU di sebuah surat kabar harian terkemuka di Jawa Tengah. Dalam kesempatan tersebut, ia menyatakan, kini bukan saatnya lagi santri hanya pintar mengaji dan rajin diskusi. Di tengah ganasnya fitnah bertubi-tubi terhadap kiai santri, maka santri harus mengambil peran yang besar di media. Segala hoax harus dilawan.

“Kaum santri, bangkitlah. Kuasai media,” kata alumnus Ponpes Futuhiyyah Mranggen, Demak ini memotivasi.

Menguasai media sosial dapat dimulai cara sederhana. Kata Agus bisa dengan meng-upload (mengunggah) segala hal tentang pesantren dan dunia santri ke media sosial. Dicontohkannya, pidato atau ceramah kiai maupun bu nyai dapat dikirim ke Youtube, diunggah ke Instagram, atau dengan menulis manaqib (biografi) tokoh pesantren.

Agus Fathuddin Yusuf saat memaparkan materi jurnalistik bagi santri

Agus juga menyatakan, santri patut menjadi jurnalis. Sebab jurnalis itu seperti ulama, sebagai pewaris Nabi. “Wartawan itu punya misi seperti Nabi. Kita ini seperti ulama. Yaitu menyampaikan pesan-pesan kebenaran,” ujarnya.

Karena itulah, lanjutnya, setiap jurnalis harus punya empat sifat Nabi, yaitu Sidiq, Amanah, Tabligh, dan Fathohah.

Sidiq artinya jurnalis harus jujur, kata Agus menerangkan. Tidak berdusta atau menyebar kebohongan, Amanah artinya jurnalis tidak memanipulasi atau mendistorsi fakta. Itu berarti menjalankan tugas sesuai aturan dan kode etik jurnalistik.

Tabligh artinya jurnalis memberitakan sesuai fakta, dan mengedukasi masyarakat, dan Fathonah artinya jurnalis harus cerdas dan berwawasan luas.

Mengangkat tema “Santri Siap Melawan Hoax dan Mengambil Peran di Media” pelatihan diikuti oleh 40 santri utusan pesantren dan siswa madrasah Maarif se-Kota Semarang.

Usai mendapat materi dari Agus Fathudin, peserta dilatih membuat soft news. Kemudian peserta diberi ilmu jurnalistik oleh seorang wartawan media nasional yang juga aktivis Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah, M Nur Huda.

Selanjutnya, peserta diberi pembekalan penguasaan internet oleh Praktisi Internet Marketing Wijaya. Dalam paparannya Wijaya mengajak peserta mempelajari iklan, promosi dan pembuatan gambar yang sangat layak untuk ditampilkan di media sosial.

Sejak pagi hingga sore, peserta didampingi penuh oleh ketua LP Ma’arif NU Kota Semarang H Asikin Khusnan, yang mengevaluasi hasil praktek peserta, dan memberi motivasi agar semangat berlatih.

Sementara, sekretaris LTN PCNU Kota Semarang Khamdun Khiyaruddin memberi penilaian hasil praktek tersebut via online di grup WhatApps yang dibentuk khusus untuk pelatihan tersebut. (arh)