,

Begini Gerakan Kader NU Bersama Rehabsos Dinas Sosial Semarang

oleh
Salah seorang anggota Banser yang tergabung dalam TPD saat menjalankan tugasnya. (dok)

SOROTNUSANTARA.COM , Semarang – Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi massa yang besar memiliki banyak kader potensial di berbagai bidang. Aktifitas para kader NU tak hanya ditunjukkan di intern organisasi NU maupun badan otonomnya, namun juga di organisasi kepemerintahan.

Bersama Bidang Rehabsos, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMU), Ansor-Banser, Fatayat NU, Muslimat NU mengambil peran mengurusi kesejahteraan sosial sebagai Tim Penjangkauan Dinas Sosial (TPD) Kota Semarang.

Hal ini dikatakan Wakil Sekretaris Muslimat NU Kota Semarang, Dwi Supratiwi disela aktifitasnya di Balaikota Semarang. Mereka memiliki peran mengurus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), pengemis, gelandangan dan orang telantar (PGOT) dengan telaten tanpa kenal waktu.

“Kapan pun ada laporan masuk di CC 112 (Call Center 112), segera kita tindaklanjuti, termasuk saat pandemi ini, ” kata Dwi Supratiwi selaku koordinator TPD, Jum’at (25/9/2020).

Koordinator TPD Dwi Supratiwi saat menemui ketua RT setempat. [dok]
Menurutnya, aktifitas tersebut sebagai aplikasi dari petuah ‘NU tidak kemana-mana, tapi ada dimana-mana’. Selain itu juga aplikasi ajaran NU sebagai organisasi yang memiliki ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia).

“Selain bergerak atas nama NU, kader muda NU juga perlu bergerak bersama pemerintah. Sinergi ini juga bukti bahwa NU menjaga keutuhan NKRI,” ujarnya.

Dengan begitu, kader NU yang tergabung dalam TPD menjadi lebih leluasa mengurus ODGJ maupun PGOT yang meresahkan masyarakat dan kerap masuk dalam laporan CC 112. “Teknisnya, bisa langsung berkendara sendiri ke lokasi atau berkumpul di kantor Dinsos Kota Semarang terlebih dahulu. Intinya harus sudah di lokasi dalam waktu dari dua jam,” ungkapnya.

Diungkapkan, TPD juga mendapatkan dukungan berupa mobil operasional dan mobil ambulans yang selalu siap digunakan saat dibutuhkan untuk kepentingan kemanusiaan. “Kita langsung melakukan asesmen (pendataan) terhadap kelayan (istilah penerima manfaat bantuan dari dinas sosial,red) di lokasi tersebut,” kata aktifis perempuan NU yang pernah mendapatkan penghargaan dari Anne Avantie atas kepeduliannya terhadap PGOT.

Tiwi, sapaan akrabnya menyebut beberapa layanan sosial yang diberikan oleh Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Kota Semarang meliputi merujuk ke panti pemerintah maupun panti kerjasama, mendampingi orang telantar tanpa identitas agar mendapatkan layanan medis di rumah sakit, dan sebagainya.

“Kabid Rehabsos, Pak Tri Waluyo yang melakukan koordinasi lintas OPD (Organisasi Perangkat Daerah) agar program berjalan lancar. Beliau memang konsen soal pendidikan dan sosial,” aku mantan Ketua IPPNU Kota Semarang.

Personil TPD Kota Semarang berfoto bersama di depan ambulan Dinas Sosial Kota Semarang (dok)

Perlu diketahui, TPD sebagai tim reaksi cepat Dinsos Semarang beranggotakan orang-orang yang konsen pada persoalan sosial. Tak hanya dari unsur NU, TPD juga diisi oleh para pegiat organisasi dari berbagai Ormas dan LSM.

Hal ini ditegaskan Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Tri Waluyo. Dinas Sosial tidak memandang dari sisi keorganisasian. Sebab, menurutnya, yang terpenting dalam kegiatan tersebut adalah kesamaan visi-misi dan kepribadian.

“Dinas Sosial terbuka kepada Ormas apapun. Intinya persoalan sosial dan kemanusiaan ini bisa diatasi dengan baik. Bergerak bersama tanpa pamrih. Begerak untuk Semarang lebih hebat,” ucapnya.

Karena itu, Tri Waluyo mengapresiasi semua unsur dalam TPD yang sejauh ini menunjukkan hasil yang konsisten dalam menangani masalah sosial yang ada. “Kami justeru meminta maaf karena mungkin pengorbanan waktu dan tenaga rekan-rekan yang menjadi relawan Dinsos ini hanya mendapatkan apresiasi sekedarnya,” tuturnya. (arh)