,

Barengi Semarak Agustusan Dengan Kesadaran Makna Kemerdekaan

by
Para santri putri PP Sabilunnajah Brangsong Kendal saat mengikuti salah satu perlombaan untuk menyemarakkan HUT ke 74 RI

SorotNusantara.com , Kendal – Antusiasme masyarakat dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia tak ubahnya di tahun-tahun sebelumnya. Yakni dengan menggelar aneka ragam perlombaan yang menarik. Namun, ada sebagian golongan justru nyinyir atau menganggap kegiatan tersebut sia-sia. Pandangan miring tersebut tak menyurutkan Pondok Pesantren Sabilunnajah Desa Penjalin Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal untuk menggelar hal serupa.

Menurut salah satu pengasuh, Kiai Mandzur Labib, kegiatan tersebut sebagai ungkapan rasa syukur dan sarana untuk memperkokoh persatuan. Karena itu, masyarakat juga perlu mengerti substansi antara semarak dalam perlombaan dan arti kemerdekaan.

“Para santri dan masyarakat pada umumnya mengadakan kegiatan berbagai lomba untuk memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan. Ini merupakan sebuah ungkapan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan, dan itu sesuai perintah Allah dalam Alquran Surat Ibrahim ayat 7 Juz 13,” katanya, Minggu, (18/8/2019)

Lebih lanjut Gus Labib, demikian ia biasa disapa, mengatakan, kegiatan perlombaan juga sekaligus untuk mengenang jasa para pahlawan dan memupuk jiwa patriotisme generasi penerus bangsa. Sebab, Syaikh Musthafa Al Ghulayani dalam Idzatun Nasyiin menegaskan kemerdekaan adalah sebuah karunia Allah SWT. Dengan adanya kemerdekaan, diharapkan manusia bisa memanfaatkan dengan baik untuk dirinya sendiri dan orang lain.

“Orang yang merdeka, dalam pengertian baru dan benar adalah orang yang murni pendidikannya, bersih jiwanya, berpegang teguh dengan sifat-sifat terpuji, menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela, melepaskan diri dari segala bentuk ikatan perbudakan dan melaksanakan kewajiban yang menjadi kewajibannya,” jelasnya.

Kata Gus Labib, saat ini kita tinggal menikmati perjuangan para pahlawan yang telah mendahului kita. Namun bukan berarti kita tinggal diam ongkang-ongkang kaki. Dia menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan justru lebih berat. Sebagai contoh perjuangan kemerdekaan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam perekonomian yang belum mandiri, kemajuan teknologi yang masih tertinggal dan lain sebagainya.

“Nah, beberapa kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap generasi penerus bangsa Indonesia adalah meningkatkan jumlah orang-orang terpelajar yang bermoral tinggi dan baik, yang di dalam dirinya telah tertanam kuat cinta tanah air itu adalah bagian dari keimanan,” tuturnya.

Para santri putri PP Sabilunnajah Brangsong Kendal saat mengikuti salah satu perlombaan untuk menyemarakkan HUT ke 74 RI

Gus Labib melanjutkan, dahulu para santri jarang yang sekolah formal, akan tetapi saat ini sudah lulus S2 bukan hal yang prestisius lagi. Menurutnya, upaya meningkatkan jumlah kaum terpelajar tersebut tidak akan terwujud, kecuali dengan semangat jihad melawan kebodohan.

“Harus berani mengorbankan harta dengan niat demi kemaslahatan umum, mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mencerdaskan masyarakat melalui pengajian di mushalla atau masjid, dan pesantren, atau bahkan membangun lembaga pendidikan formal yang dapat menghembuskan jiwa nasionalisme,” bebernya.

Kiai muda yang periode lalu menjadi Ketua RMI NU Jateng ini melanjutkan penegasannya, kesadaran nasionalisme sejak dini pada jiwa para pelajar dapat melahirkan gagasan–gagasan mulia dan amal saleh dalam benak mereka. Lebih dari itu juga sanggup membangkitkan semangat mereka menjadi dewasa untuk berkhidmat demi kepentingan negara yang berada di ambang kehancuran akibat ulah sebagian golongan masyarakat yang tidak bertanggung jawab, yang tanpa disadari kejahatannya melebihi musuh-musuh yang sebenarnya.

“Merdeka bukan berarti bebas semaunya sendiri, sehingga merasa bebas membahayakan dirinya sendiri dan orang lain,” tegasnya.

Lebih lanjut Gus Labib mencontohkan, perilaku menghamburkan harta kekayaan, berbuat semena-mena, merusak tatanan kemasyarakatan dengan menyebarkan paham anti NKRI dan merasa paling benar sendiri dalam persoalan khilafiah (perbedaan pendapat,red) sehingga menganggap kafir terhadap yang beda dengannya. Karenanya Gus Labib mengingatkan semangat perjuangan dari kisah Pangeran Diponegoro, nama aslinya Abdul Hamid, seorang santri Kiai Ageng Besari.

“Pangeran Diponegoro membuat Belanda kocar kacir. Beliau salah satu teladan bagi para santri. Santri harus turut ambil peran dalam semua sendi kehidupan dalam menjaga keutuhan NKRI dan menyebarkan Islam yang damai apapun profesinya,” tuturnya.

Perlu diketahui PP Sabilunnajah merupakan satu dari sekian banyak pesantren yang ada di Kabupaten Kendal. Dalam perkembangannya, pesantren tersebut telah mendirikan Madrasah Tsanawiyyah Plus Sabilun Najah. Menurut rencana, target perkembangan selanjutnya adalah mendirikan sekolah kejuruan. “Insya Allah kita akan segera mendirikan SMK. Karena kita merasakan masyarakat membutuhkan peran pesantren lebih dari sekedar pendidikan keagamaan, tapi juga pendidikan formal dan kejuruan,” pungkasnya. (arh)