,

Bankom Semarang Tingkatkan Kesadaran Bermasker

oleh
Bankom Semarang membagikan masker kepada para pedagang. (oman)

SOROTNUSANTARA.COM , Semarang – Masker sebagai salah satu cara mencegah diri dan menjaga orang lain dari penularan virus di masa pandemi Covid-19 sangat penting dimiliki masyarakat. Meski demikian kesadaran masyarakat untuk bermasker masih rendah. Hal inilah yang dilakukan Bantuan Komunikasi (Bankom) Semarang saat ini.

“Jumlah masker yang kami bagikan memang tidak seberapa. Yang penting kami mengajak masyarakat untuk sadar pentingnya masker dan bahayanya Corona,” kata Ketua Bankom Semarang Giri Purdyanto, Sabtu (3/10/2020).

Menurutnya, yang dilakukan Bankom sudah tepat. Sebab, sejak awal pandemi sampai saat ini, pihaknya masih melayani permintaan penyemprotan disinfektan. Terlebih dengan membagikan masker untuk membuat Kota Semarang menjadi zona hijau Covid-19.

“Sekarang ini Kota Semarang sudah zona kuning. Artinya sudah semakin banyak pihak yang bergerak bersama mengatasi virus ini,” katanya.

Meski begitu, dia menyayangkan masih banyaknya masyarakat yang kurang memperhatikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

“Pandemi ini sudah cukup lama, sebagian masyarakat kemungkinan ada yang maskernya sudah rusak tapi tidak mau beli lagi. Karena itu kami bagikan masker sambil memberikan pemahaman pentingnya bermasker saat ini,” terangnya.

Salah satu anggota Bankom Polrestabes Semarang saat memberikan masker pada pedagang pasar. (doc,istimewa)

Sementara, Ketua Bidang Sumber Daya Manusia Bankom, KSA Sutarno menerangkan, sebanyak 650 masker kain dua lapis yang bisa diisi tisu dibagikan di beberapa titik. Disebutnya, wilayah Semarang Tengah dibagikan di area Jagalan, Wot Gandul, Pasar Gang Baru Plampitan, Kanjengan, Kauman, Metro, dan Pekojan.

“Pada bulan yang lalu juga sudah membagi 2.350 Marker kepada masyarakat.” ungkap Aji, sapaan akrab KSA. Soetarno

Aji menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu Bankom dalam kegiatannya. Pembagian masker, katanya, menjadi sebuah penyeimbang adanya sanksi yang diberikan bagi pelanggar protokol kesehatan.

Keengganan masyarakat menggunakan masker, salah satunya disebabkan menurunnya daya beli masyarakat sehingga banyak yang merasa eman untuk membeli masker. Hal ini sebagaimana penuturan Lastri yang setiap hari berdagang di Pasar Gang Baru.

“Terima kasih maskernya, bisa untuk ganti Pak. Sebenarnya bukan kami tidak mau pakai masker Pak, tapi sayang kalau uangnya dibuat beli masker. Saya punya satu ini saja dikasih. kalau dikasih ya saya pakai,” katanya. (oman/arh)