Bagaimana Kebhinekaan Dalam Perspektif Papua? Baca Penjelasannya Di Sini !

oleh

SorotNusantara.com , Semarang – Keberagaman bangsa Indonesia merupakan sebuah kekayaan tersendiri bagi negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). Namun demikian, tak dipungkiri pula perbedaan tersebut juga mengemuka dalam ragam gejolak. Karena itu bagaimana kita menciptakan papua yang damai, yang indah, dan membanggakan Indonesia?

Hal ini dikupas dalam seminar virtual yang bertema “Kebhinekaan di Tanah Papua” yang menghadirkan Narasumber tokoh Pemuda Papua, Robert Manaku, Anggota Dewan Papua Fauzun Nihayah dan Tenaga Ahli MPR RI Saiful Arif.

Direktur Suara Dakwah Net, Dr. Muhammad Rikza Chamami menjelaskan bahwa forum Suara Dakwah Net adalah sebuah chanel Youtube yang dinahkodai oleh para santri Pondok Pesantren Al-Firdaus YPMI Ngaliyan Semarang.

Dalam forum tersebut di, Ustadz Rikza ini menyatakan dirinya yang pernah berkunjung ke Papua merindukan kehangatan suasana harmonis warga Papua, “Saya pernah ke Papua tiga kali, dan saya merindukan keramahan-keramahan warga Papua. Saya juga pernah ke ujung Aceh. Kita memang berbeda, tapi semua itu merupakan keindahan yang seharusnya kita pelihara,” ucap pria yang juga menjadi kepala PPM UIN Walisongo Semarang, Jum’at (19/6/2020).

Sementara Robert Manaku, menjelaskan bagaimana perspektif Kebhinekaan orang Papua, “Orang papua terdiri dari 250 suku yang terbagi dalam 7 wilayah adat. Meskipun begitu banyak suku, namun orang papua dapat hidup rukun dengan beragam suku lainnya termasuk luar Papua,” ungkap tokoh muda yang menjadi Advokad di Lembaga Bantuan Hukum Talenta.

“Masyarakat Papua memliki kearifan lokal yang harmoni dalam filsafat hidupnya,” imbuhnya.

Meski demikian, Robert mengakui saat ini terdapat ancaman-ancaman yang mengganggu kerukunan di Papua. Tanpa disadari, di Papua sendiri muncul dikotomi antar masyarakat Papua, “Upaya untuk menghancurkan kerukunan orang Papua terus dilakukan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab melalui tangan-tangan tak terlihat,” Ucap pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Yayasan Cendrawasih Semarang yang menghimpun komunitas Papua di Jawa Tengah.

Terkait salah satu bentuk upaya buruk tersebut ia menjelaskan, saat ini tanpa disadari orang Papua muncul dikotomi “orang gunung dan orang Pantai”, ada juga Orang Papua Asli dan Non Papua, serta stigma sparatis dan lain-lain. Ini dibangun untuk memecah belah orang Papua dan dengan orang dari luar Papua,” tegasnya.

Menurutnya, kebhinekaan di Papua dapat kembali dengan penegakan keadilan dan kesetaraan, “Cara untuk mengembalikan kebhinekaan di Papua adalah dengan menegakkan keadilan dan membangun kesetaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” bebernya.

Sementara, Fauzun Nihayah yang menjabat sebagai Sekretaris Komisi V DPRD Papua menjelaskan bahwa kehidupan di papua dari sisi sosial terjadi akukturasi budaya mengingat banyaknya warga yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang datang ke Papua.

“Masyarakat Papua sangat terbuka dan ramah, seandainya ada berita kerusuhan maka sebenarnya hal itu terjadi karena ada persoalan-persoalan tertentu. Prinsipnya tak ada asap jika tak ada api. Keurukunan antar suku dan antar agama juga sangat kental di sini. Banyak anak-anak muslim yang bersekolah di sekolah mon muslim dan sebaliknya,” ungkap wanita yang sudah sejak tahun 2015 aktif dalam penelitian dan melakukan banyak aksi sosial di Papua.

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jakarta ini juga mengaku sangat memprioritaskan program-program untuk Orang Papua, “Kami sebagai legislator di Papua juga kami memprioritaskan program-program untuk orang asli Papua,” kata kandidat Doktor di Universitas Sebelas Maret Surakarta ini.

Dalam kesempatan itu, Fauzun mengingatkan bahwa di Papua memiliki banyak tokoh yang berkontribusi bagi bangsa dan negara seperti Frans Keisiepo yang membantu Bung Karno dalam perjuangan kemerdekaan serta Gubernur pertama Papua.

“Kita harus melihat bahwa banyak tokoh-tokoh Papua yang berkontribusi pada bangsa ini,” jelasnya.

Di akhir diskusi, Tenaga Ahli MPR RI Saiful Arif menjelaskan filosofi dan sejarah Pancasila, “Dalam Kakawin Negarakertagama, sang raja selalu waspada dan memegang teguh Pancasila, berlaku mulia dan menjalankan upacara agama,” ujarnya.

Bahkan, ia menyebut Pancasila juga selaras dengan ajaran Vajrayana, “Dalam Kakawin Sutasoma, bagi yang mengikuti Vajrayana, Pancasila harus dipegang teguh jangan sampai dilupakan,” bebernya.

Mengenai Pengakuan kembali 1 juni sebagai hari lahirnya pancasila, Arif mengatakan bahwa keputusan itu telah memulihkan kehormatan Bung Karnk sebagai penggali pancasila, “Presiden Joko Widodo telah menghidupkan kembali peringatan hari lahir Pancasila setiap 1 Juni dan memulihkan kehormatan Bung Karno sebagai Penggali Pancasila,” pungkasnya. (arh)