ARKA Durrotu Aswaja, Ikhtiar Dorong Santri Jadi Profesional

oleh
Pengasuh PPDA Kiai Agus Ramadlan saat memberikan sambutan kegiatan 10 Muharam. (dok)

SOROTNUSANTARA.COM , Semarang – Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Wal Jama’ah (Durrotu Aswaja atau PPDA) Banaran Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang terus berbenah mengikuti pola zaman. Bertahan dengan tradisi pesantren dan mengadopsi pola modern bagi pesantren yang didominasi mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) memiliki banyak manfaat.

Selain mengembangkan tahfiz dan pendidikan anak usia dini – taman kanak-kanak (PAUD-TK), Durrotu Aswaja juga mendorong para santri peka terhadap zaman. Mengikuti era profesionalisme. “Kita dukung selama kegiatan itu positif, bermanfaat. Dengan catatan tidak mengganggu ngaji di pesantren,” kata pengasuh PPDA Kiai Agus Ramadlan usai kegiatan Launching Asosiasi Rumpun Keilmuan Aswaja (ARKA), peringatan 10 Muharam dan pemberian santunan anak yatim di PPDA, Sabtu (29/8/2020).

Menurut Kiai Agus, ARKA merupakan kelompok belajar atau study club yang berfungsi untuk membantu para santri menekuni rumpun keilmuan dan juga menjadi ajang saling berbagi ilmu dan pengalaman, “Jadi semisal ada kesulitan-kesulitan saat kuliah bisa didiskusikan, berbagi pengalaman dan materi. Sehingga bisa lulus sesuai waktunya,” ujarnya.

Dia melanjutkan, PPDA memiliki keunggulan sumber daya manusia (SDM) yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan pesantren maupun Nahdlatul Ulama. Karena itu harus dikelola supaya santri dapat mencapai target belajar di pesantren maupun perkuliahan dengan maksimal, “Santri disini (PPDA) belajar ilmu agama dengan kurikulum pesantren, dan di kampus belajar profesional sesuai dengan jurusannya. Jika dikolaborasikan tentu hasilnya baik bagi pesantren maupun NU,” tuturnya.

Sekretaris Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Kota Semarang juga meminta setiap rumpun keilmuan membuat organisasi sendiri agar hasilnya maksimal, “Harapannya nanti para santri menjadi santri unggul yanh berprestasi di lingkungan kampus tanpa meninggalkan kewajiban sebagai santri. Juga memiliki sumbangsih terhadap pondok,” harapnya.

Hal senada dikatakan Ketua ARKA, Tohiran. Secara teknis ia menerangkan organisasi tersebut merupakan unit kegiatan santri (UKS) yang menjadi asosiasi bagi 31 rumpun keilmuan santri mahasiswa PPDA. “Karena kita dekat dengan UNNES dan lebih dari 90% santri sebagai mahasiswa UNNES. Jadi dalam pembentukan asosiasinya masih banyak yang mengacu dengan prodi (program studi) yang ada di UNNES dengan tidak mengesampingkan santri mahasiswa dari selain UNNES,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, harapan pengasuh dengan pembentukan asosiasi keilmuan tersebut para santri bisa mengatasi kendala yang dialami santri, utamanya di bidang akademik, “Pesantren juga sudah ada beberapa UKS, salah satunya lembaga bahasa asing. Nanti bisa diambilkan pengajarnya di asosiasi bahasa. Ada juga bidang kehumasan atau publikasi yang bisa diambilkan dari asosiasi teknologi informasi. dan sebagainya,” jelasnya.

Adanya ARKA, sambungnya, para santri diharap lebih bisa mengabdikan diri ataupun mentasharufkan ilmu dan keterampilan yang dimiliki untuk perkembangan serta kemajuan pesantren, “Jadi lebih mudah melakukan pengeplotan kemampuan santri. Sewaktu-waktu dibutuhkan langsung bisa dicarikan personilnya,” tutupnya. (arh)