10.17 WIB, Sejarah 17 Agustus 1945 di Masjid Agung Semarang

oleh
Para pengurus Takmir MAS saat berdoa bersama mengenang peristiwa 17 Agustus 1945 pukul 10.17 WIB di halaman masjid (arh)

SorotNusantara.com , Semarang – Jum’at 17 Agustus 1945 pukul 10.17 WIB menjadi momen berharga bagi warga Kota Semarang, khususnya Masjid Agung Semarang (MAS) atau Masjid Kauman dan warga sekitar. Hal ini dikatakan Ketua Takmir MAS, KH Hanif Ismail seusai mengheningkan cipta di halaman MAS.

“Alhamdulillah kita baru saja memperingati kemerdekaan dengan ditandai sirine pada jam 10 lebih 17 menit,” kata Kiai Hanif, Selasa (17/8/2020).

Kiai Hanif menuturkan, Jum’at 17 Agustus 1945 pada pukul 10 lebih 17 menit sebagai sejarah bagi warga Kauman lantaran kabar proklamasi kemerdekaan yang dilakukan Bung Karno di Jakarta sampai pada ulama Kauman pada waktu tersebut.

“Ada seorang dokter, namanya dokter Agus. Beliau datang ke masjid ini mengabarkan kepada para ulama Kauman tentang proklamasi kemerdekaan dan meminta supaya masjid ikut mengumandangkan melalui mimbar Jum’at, kemudian sebelum shalat Jum’at dikumandangkanlah kemerdekaan Indonesia di masjid ini,” ungkapnya.

Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota SemarangSemarang ini pun mengaku bangga atas peran warga Kauman, khususnya kaum muslimin yang dimotori para ulama dalam perjuangan mengangkat senjata melawan kependudukan Jepang, terlebih pada hari-hari menjelang kemerdekaan. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak dalam perang gerilya tersebut.

“Saya banyak mendapatkan cerita dari orang-orang tua, terutama dari ayah saya sendiri bahwa kaum muslimin di sekitar masjid ini juga ikut berjuang,” jelasnya.

Kala itu, lanjutnya, Jepang menduduki kantor bernama KNK yang berada di sebelah utara aloon-aloon MAS dan dijadikan sebagai markas tentara. Karena itu para tentara Jepang yang tewas saat itu langsung ditarik ke parit oleh pejuang Indonesia, “Sebab kalau ketahuan teman-teman mereka, kemungkinan besar Kauman mau dibakar,” terangnya.

Adanya fakta sejarah tersebut, pengasuh pesantren Raudlatul Qur’an An Nasimiyyah ini berharap sikap dan semangat para pejuang tersebut dapat terus dilanjutkan oleh warga Kauman. Sebab, hal ini tak tercatatkan dalam sejarah dan menjadi ilmu tutur yang disampaikan oleh para sesepuh masyarakat.

“Semangat kebangsaan, nasionalisme, dan patriotik inilah yang harus terus dijaga secara turun temurun,” tuturnya.

Wali Kota Tak Jadi Hadir
Sementara, pimpinan pesantren Raudlatul Qur’an Kauman, KH Khammad Makshum Turmudzi Alhafidh menyayangkan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang tidak jadi berziarah ke makam KH. Ahmad Naqib Nur yang ada di sebelah utara MAS. Tokoh Kauman ini menyebut hal itu lantaran agenda kegiatan orang nomor satu di Semarang yang padat.

“Kemarin sudah memberikan informasi mau ziarah ke Pak Yai Naqib, saya pikir setelah upacara, lanjut ke makam pahlawan dan ziarah ke sini (makam Kiai Naqib),” ungkapnya.

Akan tetapi pemberitahuan Hendi, sapaan Hendrar Prihadi ternyata belum teragendakan oleh asisten. Kejelasan informasi tersebut ia dapat seusai upacara di Balaikota Semarang. “Tadi waktu sehabis upacara kita konfirmasi, kok ajudan tidak tahu rencana ini (ziarah ke makam Kiai Naqib-red). Ternyata Pak Wali konfirmasi jadwal jam ke sini pas ada pertemuan live streaming dengan presiden,” jelasnya.

Terkait pembatalan tersebut, Hendi telah meminta maaf dan berencana menjadwalkan ziarah dalam agendanya, “Tadi beliau sudah minta maaf dan menunjukkan jadwal kegiatan hari ini. Setelah itu konfirmasi lagi ziarah dan kunjungan ke masjid akan dijadwalkan,” pungkasnya. (arh)